Memaknai Hari Perempuan Secara Kritis: Dari Jalanan Kota Industri Hingga Perempuan

IST/BERITA SAMPIT - Ilustrasi.

Penulis: Selamat Purwanto ( Pegiat , Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)

SETIAP tanggal 8 Maret dunia memperingati Hari Perempuan . Di berbagai negara, peringatan ini diisi dengan seminar, kampanye kesetaraan gender, hingga penghargaan kepada perempuan inspiratif. Namun di balik seremoni tersebut, sejarah Hari Perempuan sesungguhnya lahir dari perjuangan keras perempuan melawan ketidakadilan sosial dan ekonomi.

Akar Sejarah: Lahir dari Gerakan Buruh Perempuan

Sejarah Hari Perempuan sering ditarik ke awal abad ke-20 ketika perempuan pekerja mulai menuntut hak-hak dasar mereka. Pada tahun 1908, ribuan buruh perempuan di New York turun ke jalan menuntut kondisi kerja yang lebih manusiawi, jam kerja yang lebih adil, dan upah yang layak.

Gerakan tersebut menginspirasi aktivis perempuan di berbagai negara. Dalam Konferensi Perempuan Sosialis 1910 di Kopenhagen, aktivis perempuan asal Jerman Clara Zetkin mengusulkan penetapan satu hari untuk memperjuangkan hak perempuan. Usulan tersebut diterima oleh delegasi dari berbagai negara dan sejak saat itu Hari Perempuan mulai diperingati secara luas.

Sejak awal, semangat Hari Perempuan bukan sekadar penghormatan simbolik kepada perempuan. Ia lahir dari tuntutan nyata: hak , kesempatan pendidikan, perlindungan kerja, dan pengakuan terhadap martabat perempuan.

Tema Global: Hak, Keadilan, dan Aksi

Dalam perkembangannya, setiap tahun dunia mengangkat tema untuk menyoroti isu perempuan yang masih menjadi tantangan bersama. Tema global yang banyak disuarakan saat ini adalah “Rights, Justice, Action: For All Women and Girls.”

Tema ini menekankan bahwa perjuangan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan kesetaraan. Dunia membutuhkan langkah nyata agar perempuan dan anak perempuan mendapatkan hak yang sama dalam berbagai bidang kehidupan.

Isu global yang masih sering muncul antara lain:
kekerasan terhadap perempuan
kesenjangan ekonomi dan upah
akses pendidikan dan
partisipasi perempuan dalam kepemimpinan
keamanan perempuan di ruang digital

Lebih dari satu abad sejak Hari Perempuan pertama kali digagas, banyak kemajuan memang telah dicapai. Namun dalam banyak kasus, persoalan lama masih terus muncul dalam bentuk yang berbeda.
Indonesia: Warisan

Kartini dan Realitas Kekinian

Di Indonesia, semangat perjuangan perempuan sebenarnya telah muncul jauh sebelum kemerdekaan. Salah satu tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah R.A. Kartini, yang memperjuangkan pendidikan bagi perempuan pada akhir abad ke-19.

Melalui surat-suratnya, Kartini menggambarkan pentingnya pendidikan sebagai jalan bagi perempuan untuk keluar dari keterbatasan sosial pada zamannya. Pemikiran tersebut kemudian menginspirasi berbagai gerakan perempuan di Indonesia.

Namun lebih dari satu abad kemudian, perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai. Kasus kekerasan terhadap perempuan masih terjadi, kesenjangan ekonomi masih terasa, dan kesempatan perempuan untuk terlibat dalam kepemimpinan masih perlu diperluas.

Sering kali peringatan Hari Perempuan di Indonesia dipenuhi kegiatan simbolik. Seminar, diskusi, dan kampanye memang penting, tetapi perubahan nyata baru akan terasa jika kebijakan pembangunan benar-benar memberi ruang yang lebih luas bagi perempuan.

Ketika Isu Perempuan Bertemu Kehidupan

Jika kita membawa isu ini lebih dekat ke kehidupan , kita akan melihat realitas yang menarik sekaligus paradoksal.

Perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Mereka bekerja di ladang, membantu ekonomi keluarga, mengelola usaha kecil, sekaligus mengurus rumah tangga.

Di banyak , perempuan menjadi:
petani yang ikut mengolah lahan keluarga
pedagang kecil di pasar
pengelola usaha rumah tangga
kader di posyandu
penggerak kegiatan sosial masyarakat

Namun ironisnya, peran besar tersebut sering tidak terlihat dalam statistik pembangunan. Kontribusi perempuan jarang dihitung sebagai kekuatan ekonomi yang strategis.

Perempuan sebagai Penggerak Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program pemberdayaan masyarakat mulai menyadari bahwa perempuan adalah aktor penting dalam ekonomi .

Banyak usaha mikro yang dikelola perempuan terbukti mampu menopang ekonomi keluarga. Usaha tersebut bisa berupa produksi makanan rumahan, pengolahan hasil pertanian, kerajinan tangan, hingga perdagangan kecil.

Meski skala usahanya kecil, dampaknya bagi kehidupan keluarga sangat nyata. Penghasilan tambahan dari usaha perempuan sering membantu biaya pendidikan anak, keluarga, hingga kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, pemberdayaan ekonomi perempuan sebenarnya merupakan strategi penting dalam pembangunan .

Tantangan yang Masih Dihadapi


Meski memiliki potensi besar, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan.
Akses terhadap pelatihan keterampilan, teknologi, dan permodalan sering kali masih terbatas. Banyak perempuan memiliki kemampuan usaha tetapi belum mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengembangkan usahanya.

Selain itu, partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat juga masih perlu diperkuat. Walaupun perempuan aktif dalam kegiatan sosial, suara mereka sering belum sepenuhnya terwakili dalam forum perencanaan pembangunan .

Padahal perempuan memiliki perspektif penting dalam berbagai isu kehidupan : keluarga, pendidikan anak, hingga pengelolaan ekonomi rumah tangga.

Menguatkan Perempuan, Menguatkan

Pembangunan sering dipahami sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, dan fasilitas umum. Padahal pembangunan manusia jauh lebih menentukan masa depan .
Perempuan adalah bagian penting dari pembangunan tersebut. Mereka adalah ibu yang mendidik generasi masa depan, penggerak ekonomi keluarga, sekaligus penjaga nilai gotong royong dalam masyarakat.

Ketika perempuan mendapatkan akses pendidikan, pelatihan, dan kesempatan ekonomi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi oleh seluruh keluarga dan komunitas .
Di sinilah makna terdalam dari Hari Perempuan . Ia bukan sekadar hari penghormatan, tetapi pengingat bahwa kemajuan masyarakat sangat bergantung pada sejauh mana perempuan mendapatkan ruang yang adil untuk berperan.

Dari Panggung Dunia hingga Dapur

Lebih dari satu abad sejak gagasan Clara Zetkin disampaikan dalam Konferensi Perempuan Sosialis 1910, perjuangan perempuan terus berjalan di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia, semangat itu telah lama hidup sejak masa R.A. Kartini hingga kehidupan sehari-hari perempuan di desa-desa hari ini.

Mereka mungkin tidak selalu tampil di panggung besar. Namun dari tangan mereka kehidupan desa terus bergerak: di sawah, di pasar, di posyandu, hingga di dapur rumah tangga yang memastikan keluarga tetap bertahan.

Karena pada akhirnya, sejarah Hari Perempuan mengajarkan satu hal sederhana: ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat. Ketika keluarga kuat, desa menjadi kokoh. Dan ketika desa kokoh, masa depan bangsa pun memiliki fondasi yang lebih kuat.

baca juga ...  Isu Beras Oplosan, Kenapa Baru Sekarang Dirazia
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!