Dari Marsinah hingga Andrie Yunus: Jejak Panjang Teror terhadap Suara Kritis dari Orde Lama sampai Reformasi

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

SEJARAH Indonesia tidak hanya diisi oleh pergantian rezim dan perubahan konstitusi. Ia juga ditulis oleh keberanian orang-orang yang berani bersuara ketika ketidakadilan terjadi. Dari masa Orde Lama Indonesia, berlanjut ke Orde Baru Indonesia, hingga era Reformasi Indonesia, hubungan antara kekuasaan dan suara kritis selalu menjadi bagian dari dinamika bangsa.

Dalam perjalanan panjang itu, ada tokoh-tokoh yang memilih berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang harus menghadapi risiko besar—intimidasi, kekerasan, bahkan kehilangan nyawa.

penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus belakangan ini kembali membuka memori kolektif publik tentang sejarah panjang kekerasan terhadap suara kritis di Indonesia.

Siapa Andrie Yunus

Andrie Yunus dikenal sebagai salah satu aktivis muda yang aktif di organisasi hak asasi manusia Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Dalam struktur organisasi tersebut, ia menjabat sebagai Koordinator Divisi Pemantauan Impunitas.

Bidang yang ia tangani berkaitan dengan pengawasan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM, khususnya yang menyangkut impunitas atau situasi ketika pelaku pelanggaran tidak tersentuh . Dalam aktivitasnya, Andrie sering terlibat dalam penelitian, advokasi kebijakan, diskusi publik, hingga pendampingan berbagai kasus yang berkaitan dengan kekerasan negara dan reformasi sektor keamanan.

Namanya cukup dikenal di kalangan pegiat HAM karena keterlibatannya dalam berbagai kegiatan advokasi, termasuk diskusi publik mengenai reformasi militer, perlindungan kebebasan sipil, serta evaluasi kebijakan keamanan negara.

Aktivitasnya membuat ia kerap tampil dalam forum akademik, diskusi masyarakat sipil, maupun pernyataan sikap organisasi terkait isu-isu hak asasi manusia.

penyiraman air keras

Serangan terhadap Andrie terjadi ketika ia sedang dalam perjalanan pulang pada malam hari di kawasan Jakarta. Dalam perjalanan tersebut, dua orang tak dikenal yang berboncengan sepeda motor mendekatinya dan kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras.

baca juga ...  Konflik Amerika dan Iran, Kedua Belah Pihak Tidak Bisa Menahan Diri

Serangan itu menyebabkan Andrie mengalami luka bakar pada beberapa bagian tubuh dan harus mendapatkan perawatan medis intensif. ini segera memicu kecaman luas dari berbagai organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga pegiat demokrasi.

Banyak pihak meminta aparat penegak mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan motif di balik serangan tersebut.

ini pun dengan cepat memicu ingatan publik pada sejumlah kasus lama yang memiliki kemiripan pola kekerasan terhadap tokoh yang bersuara kritis.

Orde Lama: kritik dan pertarungan ideologi

Pada masa kepemimpinan Soekarno, Indonesia diwarnai pertarungan ideologi yang tajam. Nasionalisme, agama, dan komunisme saling berebut pengaruh dalam ruang yang panas.
Dalam situasi seperti itu, kritik terhadap negara sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas . Ruang kebebasan berbicara belum sepenuhnya berkembang dan perbedaan pandangan sering memicu konflik yang keras.

Orde Baru: stabilitas dengan harga mahal

Ketika Suharto memimpin Indonesia pada era Orde Baru, stabilitas menjadi agenda utama negara. Pembangunan ekonomi memang meningkat, tetapi ruang kritik publik sangat terbatas.
Pada masa inilah salah satu tragedi yang paling dikenang terjadi, yakni kasus Marsinah pada 1993.

Marsinah adalah buruh pabrik di Sidoarjo yang memimpin aksi menuntut kenaikan upah. Beberapa hari setelah aksi tersebut, ia ditemukan meninggal dengan tanda-tanda penyiksaan. ini mengguncang publik dan menjadi simbol perjuangan buruh di Indonesia.

Reformasi dan ujian terhadap demokrasi

Reformasi 1998 membuka ruang kebebasan yang jauh lebih luas bagi masyarakat sipil. Namun perjalanan demokrasi tetap menghadapi berbagai ujian. Pada 2004, Indonesia diguncang oleh kematian Munir Said Thalib, aktivis HAM yang meninggal akibat racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda.

baca juga ...  Nestapa Gas Melon di Sampit: Harga Selangit, Isi Tak Pasti

Lebih dari satu dekade kemudian, serangan terhadap Novel Baswedan, penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi, kembali menunjukkan bahwa risiko terhadap tokoh yang menjalankan fungsi pengawasan publik masih nyata.

Novel disiram air keras pada 2017 sepulang dari salat subuh, sebuah yang memicu solidaritas luas dari masyarakat.

Andrie Yunus dan peringatan bagi demokrasi

Serangan terhadap Andrie Yunus kini kembali mengingatkan bahwa meskipun Indonesia telah menjalani lebih dari dua dekade reformasi, tantangan terhadap kebebasan sipil belum sepenuhnya hilang.

Aktivis, jurnalis, dan masyarakat sipil memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi. Mereka menjadi pengingat ketika kekuasaan berpotensi melampaui batas.
Ketika suara-suara kritis tersebut diserang, yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan individu, tetapi juga ruang kebebasan yang dimiliki oleh masyarakat luas.

Menjaga akal sehat demokrasi

Sejarah memang menyimpan luka. Nama Marsinah, Munir, Novel Baswedan, hingga kini Andrie Yunus menjadi pengingat bahwa perjalanan demokrasi Indonesia tidak selalu berjalan mulus.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa bangsa ini selalu memiliki kemampuan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Perhatian publik, solidaritas masyarakat, serta tuntutan transparansi menunjukkan bahwa kesadaran demokrasi di Indonesia semakin matang.

Karena pada akhirnya, demokrasi bukan sekadar sistem . Ia adalah kesediaan seluruh masyarakat untuk menjaga ruang kebebasan—dengan akal sehat, empati, dan komitmen pada keadilan.

Penulis: Selamat Purwanto ( Pegiat , Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!