PANGKAKAN BUN – Program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Republik Indonesia telah mulai memberikan dampak nyata di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau sekitar 9.200 penerima manfaat yang terdiri dari pelajar dan masyarakat non-pelajar seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita melalui sejumlah Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Koordinator regional Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Kobar, Maulina Peavangesti, menjelaskan bahwa program MBG merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi baik sejak usia dini.
“Program MBG merupakan salah satu program prioritas dalam Asta Cita Presiden RI yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui kecukupan gizi, khususnya bagi anak sekolah dan sebagai langkah pencegahan untuk mengurangi angka stunting pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” kata Maulina pada Kamis 12 Maret 2026 lalu, di Kantor SPPG Madurejo.
Program ini menargetkan dua kelompok penerima manfaat, yaitu siswa dan non-siswa. Siswa meliputi anak-anak dari tingkat pendidikan anak usia dini, yaitu Kelompok Bermain (PJK), Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama/MTS, Sekolah Menengah Atas/Ma hingga Santri.
Sedangkan kelompok non-siswa meliputi ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita yang membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan gizi.
Di Kabupaten Kobar sendiri, saat ini terdapat tujuh Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang merupakan pusat pengolahan dan distribusi makanan bergizi. Dari jumlah tersebut, lima SPPG sudah beroperasi, sedangkan dua lainnya dijadwalkan mulai beroperasi setelah Lebaran.
Maulina menyebutkan bahwa SPPG yang sedang berjalan saat ini telah melayani 36 sekolah dan lima posyandu di wilayah Kobar. Secara keseluruhan, jumlah penerima manfaat yang telah dilayani mencapai sekitar 9.200 orang, baik dari kalangan siswa maupun non-siswa.
Selain meningkatkan kesehatan masyarakat, program MBG juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Sebagian besar relawan yang bekerja di SPPG berasal dari masyarakat setempat, terutama dari kelompok ekonomi desil 1 dan desil 2, sehingga program ini juga memberikan dampak sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Program ini juga merupakan bentuk penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat dengan memberdayakan mereka sebagai sukarelawan di SPPG. Prioritasnya tentu saja adalah masyarakat di desil pertama dan kedua agar manfaat program ini dapat dirasakan lebih luas,” tambahnya.
Dari sudut pandang ekonomi, implementasi MBG juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Bahan baku pangan yang digunakan dalam penyusunan menu bergizi tersebut dipasok oleh pelaku usaha lokal seperti petani, nelayan, dan bahkan UMKM melalui kerja sama dengan gapoktan, koperasi, dan BUMDes.
Dalam pelaksanaannya, anggaran program MBG dibagi menjadi dua kategori porsi, yaitu porsi kecil dan porsi besar, yang disesuaikan dengan kebutuhan kalori pener beneficiaries berdasarkan usia. Untuk porsi kecil yang diberikan kepada siswa TK, SD kelas 1-3, serta balita, perkiraan bahan baku sebesar Rp8.000, operasional Rp3.000, dan fasilitas Rp2.000.
Sementara itu, untuk porsi besar yang diberikan kepada siswa sekolah dasar kelas 4-6, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, serta ibu hamil dan menyusui, perkiraan bahan baku adalah Rp. 10.000, dengan tambahan Rp. 3.000 untuk operasional dan Rp. 2.000 untuk fasilitas. Perbedaan anggaran ini disesuaikan dengan kebutuhan kalori penerima manfaat yang berbeda berdasarkan usia dan kondisi.
Dengan penambahan dua SPPG baru yang akan beroperasi setelah Lebaran, jumlah penerima manfaat program MBG di Kabupaten Kobar diperkirakan akan terus meningkat, sehingga diharapkan dapat memperkuat upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus mendorong pengembangan sumber daya manusia yang lebih sehat dan produktif. (man)












