Penulis: Maman Wiharja – (Wartawan Senior-beritasampit.com)
Penulis pertama mengenal Prof. Dr. Birute Mary Galdikas sekitar tahun 1996 di Hotel Kecubung Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), saat beliau menggelar jumpa pers terkait isu Orangutan dijual keluar negeri.
Pada jumpa pers itu, Beliau dengan gigih menjelaskan bahwa isu itu tidak benar dan fitnah. Untuk mencari kebenarannya Beliau mempersilahkan kepada yang berwajib (Kepolisian dan dinas terkait lainnya) untuk memeriksa dan meneliti ke lokasi Klinik Orangutan di Desa Pasir Panjang.
Beliau sebagai pendiri Orangutan Foundation Internasional (OFI), intinya bertujuan hanya untuk menyelamatkan kehidupan Orangutan di dunia khususnya di Kalimantan.
Untuk menyelamatkan kehidupan Orangutan, dikatakan Beliau, harus peduli kepada lingkungan alam (hutan) sebagai tempat koloni Orangutan.
Beliau juga menjelaskan, sebelum Orangutan diselamatkan kehutan sebagai habitatnya, perlu mendapat kesehatan yang prima dan mendapat pembinaan mental, seperti melatih beradaptasi dengan hutan di sekitar Klinik, karena Orangutan yang telah masuk mendapat perawatan di Klinik kebanyakan Orangutan yang berasal atau dipelihara oleh warga. Bahkan setelah melaporkan kepada Pemerintah RI, Beliau atas nama OFI diutus Pemerintah RI terbang ke Burma untuk mengambil 4 ekor Orangutan hasil selundupan dari Indonesia, yang dijadikan penghibur dalam Ring Boxing (arena tinju).
Sejak penulis kenal dekat dengan Beliau (30 tahun yang lalu), ternyata benar jasa-jasa Beliau luar biasa untuk Dunia, untuk Indonesia, khususnya Bumi Marunting Batu Aji, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Provinsi Kalimantan Tengah.
Pengamatan penulis, selain menyelamatkan keberlangsungan kehidupan Orangutan, jasa Beliau juga membantu member pemasukan devisa negara, termasuk Balai TNTP Kobar, serta meningkatkan perekonomian warga dan para pengusaha lainnya di Kabupaten Kobar.
Semua itu berkat jasa Beliau yang telah berperan sebagai magnet selama 50 tahun lebih menggiring ratusan ribu Wisman (Wisatawan Manca Negara) untuk berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kabupaten Kobar.
Kini Beliau telah berpulang selama-lamanya, dan tentu berpulangnya Beliau dunia konservasi lingkungan hidup kini berduka. Beliau diusia 80 tahun, menghembuskan nafas terakhirnya disebuah rumah sakit di Los Angeles, Amerika Serikat pada hari Selasa, 24 Maret 2026, pukul 04.30 waktu Los Angeles.
Berita duka tersebut disampaikan oleh Frederick Galdikas, Direktur OFI juga sebagai anak kandung dari hasil pernikahaanya dengan pemuda Dayak bernama Bohap Bin Jalan (Almahum) pada pukul 22.02 WIB.
“Dengan hati yang penuh duka dengan mendalam dan keikhlasan, kami menyampaikan kabar ini kepada keluarga besar Orangutan Foundation International (OFI) serta seluruh masyarakat dunia yang selama ini mengenal dan mencintai dedikasi beliau,” kata Frederick.
Selama ini Prof. Dr. Birute Mary Galdikas dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup dan penyelamat orangutan, seorang ilmuwan, pejuang, sekaligus ibu bagi konservasi lingkungan hidup dunia.
Sepanjang hidupnya, lebih dari 53 tahun beliau mengabdikan diri tanpa lelah untuk menjaga kelestarian alam, khususnya dalam upaya pelestarian orangutan dan hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia.
Jejak langkahnya tidak hanya tercatat dalam penelitian dan karya ilmiah, tetapi juga hidup dalam setiap ranting dan helai daun yang tetap hijau di rimba Tanjung Puting. Dalam perjalanan kehidupan yang berhasil diselamatkan, dan dalam kesadaran umat manusia akan pentingnya merawat rimba di bumi Indonesia.
Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan bagi dunia ilmu pengetahuan, tetapi juga kehilangan besar bagi kemanusiaan dan keberlanjutan bagi alam semesta.
“Namun Ibu, saya (penulis) percaya, warisan nilai, cinta, dan perjuangan Ibu tak pernah berhenti. Akan terus hidup, bagaikan gelombang dan riak ombak laut , sehingga menginspirasi generasi demi generasi,”
Dari informasi yang dihimpun penulis, jenasah Prof. Dr. Birute akan diterbangkan ke Indonesia dan dimakamkan disamping Suami tercintanya, almahum Bohap Bin Jalan yang makamnya berada sekitar 10 meter samping rumahnya di Desa Pasir Panjang.
Keluarga almarhumah kini sedang mengurus administrasi kepulangan jenasah Prof Birute di Kedutaan besar Republik Indonesia di Amerika.
“Selamat Jalan Ibu, semoga amal perbuatan Ibu diterima Tuhan untuk menuju SURGA, Amin”. (*)












