SAMPIT – Kenaikan harga pupuk dalam sebulan terakhir dikeluhkan para petani, termasuk para petani sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Lonjakan harga yang terjadi dinilai cukup drastis dan berdampak langsung terhadap biaya produksi, khususnya bagi petani bermodal kecil.
Salah satu petani sawit Surya menyampaikan sejumlah jenis pupuk mengalami kenaikan signifikan.
“Pupuk urea yang sebelumnya berada di kisaran Rp400 ribu per sak ukuran 50 kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp495 ribu per sak,” ujarnya, Kamis 2 April 2026.
Kenaikan juga terjadi pada dolomit yang bertambah sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per sak dengan ukuran yang sama.
Tidak hanya itu, beberapa jenis pupuk NPK turut mengalami kenaikan antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per sak 50 kilogram.
Sementara itu, pupuk KCl juga mengalami lonjakan hingga Rp30 ribu sampai Rp40 ribu dari harga sebelumnya sekitar Rp390 ribu per sak.
Ia mengaku kenaikan harga ini sangat memberatkan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan modal. Ia menyebutkan bahwa kondisi ini membuat biaya perawatan kebun semakin tinggi, sementara harga jual hasil panen belum tentu stabil.
“Ini naik drastis sejak sebulan terakhir. Harga pupuk yang terus naik tentu memberatkan kami sebagai pemodal kecil,” ujarnya.
Selain kenaikan harga, petani lainnya menyebutkan ketersediaan pupuk di pasaran cukup langka yang memicu harga semakin tinggi.
“Barangnya sulit didapat, kalaupun ada, harganya tinggi, bahkan muncul dugaan sengaja ditimbun ada permainan,” ungkap petani.
Para petani berharap instansi terkait dapat segera turun tangan untuk mengendalikan harga serta memastikan distribusi pupuk berjalan lancar, sehingga tidak semakin membebani petani sawit di daerah tersebut. (Nardi)












