DPRD Kotim Soroti Maraknya Kasus Bunuh Diri di Awal 2026

NARDI/BERITASAMPIT - Ketua Komisi III DPRD Kotim Dadang H Syamsu.

SAMPIT – Rentetan kasus bunuh diri yang terjadi sejak Januari hingga awal April 2026 di Kabupaten (Kotim) mendapat sorotan dari DPRD Kotim. Dalam kurun waktu belum genap empat bulan, sejumlah serupa muncul di berbagai lokasi dengan latar belakang korban yang berbeda, termasuk usia remaja.

Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang H Syamsu menilai fenomena tersebut tidak bisa dipandang sebagai kasus yang berdiri sendiri. Ia menegaskan bahwa kejadian berulang ini harus menjadi alarm serius bagi semua pihak, terutama lingkungan terdekat korban.

“Kami turut prihatin dengan berbagai rentetan kasus bunuh diri di Kotim ini. Ini harus menjadi perhatian serius bersama,” ujar Dadang, Kamis 9 April 2026.

Menurutnya, peran lingkungan sekitar sangat penting dalam upaya pencegahan. Ia menekankan bahwa kepekaan sosial harus ditingkatkan, terutama dalam mengenali tanda-tanda seseorang yang mengalami tekanan mental atau depresi.

“Lingkungan harus peka. Kalau ada tanda-tanda depresi, jangan dibiarkan. Harus dirangkul, diberi semangat, dan jangan sampai seseorang memikul beban hidup sendirian,” tegasnya.

Dadang juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah melalui Dinas telah menyediakan layanan konsultasi bagi masyarakat yang mengalami gangguan psikologis. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai langkah pencegahan dini.

Ia turut menyinggung hasil pemantauan Dinas Kotim yang menunjukkan adanya indikasi depresi ringan pada kalangan remaja usia sekolah. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal penting bahwa persoalan mental sudah menyentuh berbagai lapisan usia.

Sementara itu, dari data yang dihimpun, kasus pertama terjadi pada 14 Januari 2026 di Cempaga Hulu, saat seorang remaja laki-laki ditemukan meninggal dunia. Selanjutnya, pada 1 Februari 2026, terjadi percobaan bunuh diri oleh seorang pria di Kecamatan Antang Kalang.

baca juga ...  Dewan Tanggapi Polemik Penolakan Rencana Pembangunan Rumah Ibadah

Kasus lain terjadi pada 28 Februari 2026 di kawasan Sawit Raya, Kelurahan Pasir Putih, di mana seorang pria ditemukan meninggal dunia. kembali berulang pada 3 April 2026, seorang ibu rumah tangga ditemukan meninggal dunia di kawasan permukiman di Jalan Dewi Sartika.

Terbaru, pada 6 April 2026, seorang pria ditemukan meninggal dunia di dalam rumah di Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi. Rangkaian kejadian ini memperlihatkan pola yang memprihatinkan dalam waktu yang relatif singkat.

Berbagai faktor diduga menjadi pemicu, mulai dari tekanan ekonomi, persoalan keluarga, hingga kondisi mental. Meski setiap kasus memiliki latar belakang berbeda, namun adanya keterkaitan antar faktor tersebut tidak bisa diabaikan.

DPRD Kotim mendorong agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan setelah kejadian, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan melalui mental, peningkatan layanan konseling, serta pelibatan aktif masyarakat.

Rentetan ini menjadi pengingat bahwa isu mental merupakan persoalan nyata yang membutuhkan perhatian bersama. Tanpa kepedulian lingkungan dan langkah konkret, dikhawatirkan kasus serupa akan terus berulang di Kotim. (nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!