PALANGKA RAYA – Mahasiswa di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), rela menghabiskan waktu berjam-jam mengantre bahan bakar minyak (BBM) di SPBU demi bisa tetap beraktivitas dan berangkat kuliah.
Antrean panjang terjadi di hampir seluruh SPBU di Kota Palangka Raya. Ratusan kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat mengular hingga keluar area SPBU dan memadati badan jalan.
Pantauan Berita Sampit di lapangan, Kamis malam, 7 Mei 2026, antrean terjadi di SPBU Jalan Imam Bonjol, Jalan Yos Sudarso, Jalan G. Obos, Jalan S. Parman, Jalan Murjani, Jalan RTA Milono, hingga Jalan Soekarno.
Mayoritas warga mengantre untuk mendapatkan BBM subsidi jenis Pertalite. Sementara di sejumlah SPBU, BBM nonsubsidi jenis Pertamax dilaporkan kosong.
Salah seorang mahasiswi, Rindiani (19), mengaku terpaksa ikut mengantre karena BBM di motornya hampir habis untuk keperluan kuliah keesokan hari.
“Besok kan kuliah, bensin juga sudah sekarat makanya mengantre,” ujarnya.
Saat ditemui sekitar pukul 19.13 WIB di SPBU Jalan RTA Milono, posisi Rindiani masih berada di tengah antrean panjang kendaraan roda dua. Di belakangnya, antrean kendaraan masih terus mengular.
“Dari jam 5 sampai ini jam 19.12, masih tidak ada pergerakan,” katanya.
Ia mengaku sempat mencoba mencari BBM ke sejumlah SPBU lain, namun seluruh lokasi yang didatangi mengalami kondisi serupa.
“Tadi juga sempat cari ke tempat lain, tapi sama seperti SPBU Yos Sudarso, G. Obos, Imam Bonjol, Bukit Keminting, sama juga kondisinya seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas masyarakat karena BBM eceran juga sulit ditemukan.
“Pasti terganggu, di eceran juga enggak ada nemu sama sekali, ini motor sudah sekarat,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Alvian (22), warga Palangka Raya lainnya. Ia mengaku harus mengantre sekitar tiga jam demi mendapatkan BBM di SPBU Jalan RTA Milono.
“Di Palangka Raya ini sangat sulit sekali mendapatkan BBM, apalagi Pertalite,” ujarnya usai mengisi BBM.
Alvian mengatakan dirinya mulai mengantre sejak pukul 16.00 WIB dan baru selesai mengisi BBM sekitar pukul 19.04 WIB.
“Ini saya mengantre dari pukul 4 sore, sekitar tiga jam baru dapat. Itu pun dapatnya cuma sedikit buat pemakaian pribadi sehari-hari,” katanya.
Meski harus menunggu lama, Alvian tetap memilih mengantre di SPBU karena sulit menemukan BBM eceran di pinggir jalan.
“BBM ini sulit ditemukan di kios-kios pinggir jalan. Kita butuh BBM, mau enggak mau antre di SPBU,” ujarnya.
Ia mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk untuk keperluan kuliah. “Dengan mengisi BBM ini saya bisa ke kampus,” katanya.
Fenomena antrean BBM di Kota Palangka Raya mulai terlihat sejak pekan lalu. Namun, antrean semakin parah sejak Senin, 4 Mei 2026 hingga Kamis, dengan ratusan kendaraan terus memadati sejumlah SPBU sejak pagi hingga malam hari.
(Sya'ban)












