Penerbangan Delay Dua Jam Gegara Karhutla Sekitar Bandara Sampit

NARDI/BERITASAMPIT - Kadishub Kotim Raihansyah.

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Timur (Kotim) mulai berdampak terhadap sektor transportasi. Salah satunya penerbangan di Bandara H Asan Sampit yang sempat mengalami keterlambatan hingga dua jam akibat kebakaran lahan di sekitar kawasan bandara.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim Raihansyah mengatakan, kejadian tersebut bukan disebabkan kabut asap, melainkan adanya kebakaran lahan yang lokasinya berdekatan dengan runway 13, yang tentunya membuat asap membumbung tinggi di area lintasan untuk manuver pesawat melakukan pendaratan.

“Kemarin sempat delay dua jam karena ada kebakaran lahan dekat runway 13. Itu lintasan mereka untuk melakukan manuver saat landing. Sebelum lokasi itu clear, mereka tidak berani berangkat dari Jakarta,” ujarnya.

Raihansyah menjelaskan, pihaknya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim bergerak cepat melakukan pemadaman agar kondisi di sekitar lintasan penerbangan kembali aman. Setelah api berhasil dikendalikan, pesawat akhirnya dapat melakukan pendaratan di Bandara H Asan Sampit.

Menurutnya, sejauh ini belum ada penerbangan yang sampai dibatalkan akibat kabut asap. Dampak yang terjadi masih berupa penyesuaian atau keterlambatan waktu penerbangan dengan melihat kondisi di lapangan.

“Alur udara sampai saat ini belum ada yang sampai batal, cuma pengaturan jam terbang saja melihat situasi dan kondisi. Mudah-mudahan tidak ada sampai pembatalan penerbangan,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi kabut asap juga belum mengganggu penerbangan di Sampit karena jadwal penerbangan yang ada umumnya berlangsung pada siang hari. Sementara itu, kabut asap cenderung muncul pada pagi hari. Hingga kini, jarak pandang masih dinilai aman untuk aktivitas penerbangan.

“Kalau kabut asapnya sampai saat ini masih belum, karena jam penerbangan kita tidak ada yang pagi. Kabut asap biasanya muncul pagi. Jadi rata-rata siang, alhamdulillah sampai saat ini belum ada, karena jarak pandang masih aman,” jelasnya.

baca juga ...  LSM Balanga Siap Turun Lapangan, Dugaan Pengrusakan Irigasi Berpotensi Masuk Ranah Pidana

Ia mengingatkan, apabila karhutla tidak segera dicegah dan ditangani, dampaknya berpotensi semakin besar. Tidak hanya penerbangan, aktivitas transportasi sungai melalui Sungai Mentaya juga dapat terganggu apabila asap tebal menyebabkan jarak pandang menurun.

Ia khawatir jika kondisi karhutla terus meluas, keterlambatan transportasi tidak lagi hanya terjadi dalam hitungan jam, tetapi bisa berlangsung hingga berhari-hari. Kondisi tersebut dinilai akan merugikan masyarakat yang menggunakan transportasi udara maupun sungai.

“Kalau sehari, dua hari, sampai tiga hari, ini sangat merugikan masyarakat yang mau ke Jakarta, ke Surabaya ataupun melalui kapal. Kabut asap dan sebagainya juga pasti berdampak terhadap kita,” tuturnya.

Selain mengganggu mobilitas masyarakat, Raihansyah menyebut terganggunya transportasi sungai dapat berdampak terhadap perekonomian daerah. Kapal yang melintas di Sungai Mentaya memiliki peran penting dalam distribusi berbagai kebutuhan pokok.

Jika arus transportasi terhambat, distribusi sembako juga berpotensi terganggu. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga maupun kelangkaan sejumlah bahan kebutuhan pokok dan pada akhirnya berpengaruh terhadap inflasi daerah.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya karhutla selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.

“Kalau ada api-api kecil segera kita padamkan, segera kita laporkan. Kita bersama-sama melakukan pemadaman dan pencegahan. Ini juga sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Kabupaten Kotim,” pungkasnya. (nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!