PALANGKA RAYA – Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) mengusulkan kenaikan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi Rp3 triliun dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027.
​Anggota Banggar DPRD Kalteng, Yohanes Freddy Ering, menjelaskan bahwa usulan tersebut muncul dari hasil rapat Banggar, di mana target PAD diusulkan naik menjadi Rp3 triliun dari usulan awal Pemerintah Provinsi Kalteng yang berada di angka Rp2,8 triliun. Namun, ia menyebutkan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis.
“Jadi itu baru usulan dari Banggar, pemprov ya sudah barang tentu menghitung dengan secermat mubgkin nerkaitan dengan usulan kenaikan target PAD itu,” ujar Freddy, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemampuan daerah dalam mencapai target tersebut, Freddy menilai bahwa kenaikan sekitar Rp200 miliar dari plafon usulan awal sangat rasional untuk dicapai jika diiringi dengan pembenahan sistem dan pelayanan.
“Ya kalau menurut pandangan kami dengan optimalisasi, perbaikan sarana, personil, pelayanan maksimal untuk pelayanan pajak dan sebagainya, ya menurut kami bukan sesuatu yang luar biasa karena itu kenaikan Rp200-san miliar dari plafon usulan mereka,” katanya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Banggar DPRD Kalteng Junaidi, meyakini target usulan kenaikan PAD pada tahun anggaran 2027 sebesar Rp3 triliun sangat realistis dan dapat dicapai oleh pemerintah provinsi.
Menurut Junaidi, kenaikan itu didasarkan pada hasil kajian tenaga ahli serta analisis data perkembangan ekonomi global, regional, hingga pertumbuhan ekonomi di Kalteng.
“Kita berkeyakinan ini akan bisa dicapai oleh Pemerintah Provinsi. Kenapa? Karena berdasarkan pengamatan kita, berdasarkan pertimbangan TA (Tenaga Ahli) kita, berdasarkan data perkembangan ekonomi global, regional dan ekonomi Kalteng, kita berekeyakinan kenaikan ratusan miliar itu bisa tercapai dari Rp2,8 triliun itu bisa tercapai ke Rp3 triliun,” ujar Junaidi, Selasa, 28 Juli 2026.
Ia juga mengungkapkan bahwa target pendapatan di angka Rp3 triliun bukanlah hal yang mustahil, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya pencapaian di kisaran angka tersebut pernah terealisasi.
“Tahun sebelumnya pun pernah kita pendapatan Rp3 triliun. Ini bukan hal yang mustahil seperti itu,” tambahnya.
Saat disinggung mengenai sektor utama yang diandalkan untuk mendongkrak PAD hingga mencapai Rp3 triliun, Junaidi menjelaskan bahwa tumpuan utama berasal dari sektor pajak dan retribusi daerah.
“Secara umum ada dua, pajak daerah dan retribusi daerah. Pajak itu termasuk pajak BBM, alat berat dan lain sebagainya. Harapan kita jadi Rp3 triliun,” pungkasnya.
(Syauqi)












