SAMPIT – Beban kerja personel penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan sejumlah personel di lapangan saat ini harus bekerja dengan durasi yang cukup panjang. Rata-rata mereka bekerja lebih dari 12 jam dalam sehari.
“Kalau mereka bekerja sudah overtime sebenarnya, lebih dari 12 jam rata-rata. Ada yang 16, ada yang 18 jam per hari,” ujar Multazam, Senin 10 Agustus 2026.
Kondisi tersebut, menurutnya, harus diperhitungkan karena penanganan karhutla diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Pihaknya harus mengatur ritme kerja agar personel tetap memiliki stamina untuk menjalankan tugas dalam beberapa bulan ke depan.
Ia bahkan memperkirakan dalam beberapa hari ke depan mulai ada personel yang tidak mampu menjalankan tugas akibat kelelahan. Saat ini sudah ada sejumlah petugas yang meminta izin tidak masuk karena kondisi fisik.
“Secara fisik sih masih kuat semua. Tapi saya yakin dalam hitungan tujuh hari ke depan pasti ada yang tumbang,” ungkapnya.
Multazam mengatakan laporan personel yang tidak dapat hadir karena kelelahan sudah mulai diterima. Sebagian lainnya juga tidak masuk karena sakit, meskipun jumlahnya disebut tidak sebanyak mereka yang mengalami kelelahan.
Untuk menjaga kondisi petugas, BPBD berupaya memastikan kebutuhan konsumsi personel tetap terpenuhi. Dukungan dari relawan juga dinilai sangat membantu, terutama berupa makanan dan minuman yang dapat menunjang kebutuhan petugas selama berada di lapangan.
“Kita tentunya asupannya tetap terjamin. Bahkan kami terima kasih juga banyak relawan yang bisa memberikan bantuan minuman-minuman yang bergizi,” katanya.
Saat ini sekitar 150 orang terlibat dalam penanganan karhutla, termasuk personel dan relawan. BPBD juga mendapat dukungan dari relawan PMI yang disiapkan untuk membantu selama kondisi tanggap darurat.
“Relawan rata-rata pekerja juga, kita tidak ingin mereka terganggu. Mudah-mudahan itu bisa berkolaborasi dengan kita sepanjang situasi tanggap darurat ini,” jelas Multazam.
Ia menegaskan pengaturan tenaga menjadi penting karena target penanganan bukan semata-mata membuat seluruh titik kebakaran langsung tuntas, tetapi memastikan kebakaran yang aktif dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi lebih besar.
“Kita berharap kebakaran ini bukan kemudian tidak semua tuntas. Kami minta maaf tidak semua tuntas. Tapi paling tidak kita bisa kendalikan,” pungkasnya. (nardi)












