Oleh: Selamat Purwanto
KOTAWARINGIN TIMUR bukan sekadar wilayah administratif di jantung Kalimantan Tengah. Ia adalah ruang hidup tempat bertemunya keragaman Dayak, Banjar, Jawa, Madura, Sunda, Tionghoa, Bugis, hingga berbagai etnis lain yang membaur dalam riak sejarah, transmigrasi, dan roda ekonomi. Dari perjumpaan itu, lahirlah kearifan lokal, tradisi, dan cerita yang tak habis digali.
Di atas fondasi sosial budaya itu, Kotawaringin Timur atau Kotim juga membentang sebagai raksasa ekonomi. Ratusan ribu hektare sawit, komoditas karet, potensi hortikultura, hingga kekayaan tambang seperti zirkon dan batu bara melengkapi bentang alamnya. Namun, kekayaan melimpah ini menyimpan paradox; ia membutuhkan pengawasan, keadilan tata kelola, dan keberpihakan pada lingkungan.
Di balik angka-angka statistik pemerintah, ada manusia. Di balik perkebunan, ada keringat petani. Di balik potensi tambang, ada bayang-bayang kerusakan alam. Dan di balik setiap perubahan zaman, ada cerita yang membutuhkan seseorang untuk mencatatnya.
Di sinilah Pers Daerah Menemukan Eksistensinya, Hadir di Ruang-ruang Sunyi
Pers tidak boleh hanya mengendap di ruang ber-AC atau lorong balik gedung pemerintahan. Pers harus hadir di tempat-tempat yang alpa dari perhatian: di tepian sungai, pesisir, kebun buah naga, hingga sudut-sudut desa tempat anak muda mencoba membangun kampungnya.
Di tengah riuk pembangunan dan kompleksitas dinamika Kotim itulah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kotim menginjak usia 34 tahun.
Tiga puluh empat tahun jelas bukan rentang yang pendek. Generasi wartawan di Kotim telah melewati lintas zaman: dari denting mesin ketik ke komputer, dari koran cetak menuju portal digital, dari kamera klise ke gawai pintar. Berita tak lagi menunggu pagi untuk dibaca, melainkan beredar dalam hitungan detik. Namun, ketika media bertransformasi, pertanyaan mendasarnya tetap sama; Untuk siapa pers bekerja?
Menjaga Nurani di Era Disrupsi Digital
Hari ini, publik tidak kekurangan informasi; mereka justru tenggelam di dalamnya. Algoritma media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mengepung pembaca dengan konten instan. Dalam situasi ini, tantangan pers bertambah berat; dari isu keberlanjutan bisnis media hingga krisis kepercayaan publik.Informasi yang cepat belum tentu benar, dan yang viral belum tentu penting.
Di titik inilah nilai seorang wartawan diuji. Wartawan tak sekadar melapor apa yang terjadi, tetapi wajib menggali mengapa itu terjadi, siapa yang terdampak, dan bagaimana peristiwa tersebut diletakkan dalam konteks yang adil.
AI boleh jadi makin pintar merangkai kata atau membuat gambar, tetapi ada satu hal yang tak punya algoritma; nurani jurnalistik.Mesin tak bisa merasakan getar empati saat mewawancarai warga yang kehilangan lahan, atau memahami kompleksitas sosial di lapangan.
Maka, ketika mesin makin mahir menyusun kata, manusia pers harus makin kuat mempertahankan fakta, empati, dan tanggung jawab. Tantangan pers hari ini bukan lagi menjadi yang tercepat, melainkan menjadi yang paling dipercaya.
Media Daerah dan Sikap Independen
Bagi Kotim, keberlanjutan media lokal adalah perkara krusial. Jika media daerah mati, publik kehilangan ruang bersuara. Tak ada lagi yang mengawal pelayanan publik, memotret kearifan lokal, atau mengawasi pengelolaan sumber daya alam dari jarak dekat.
Pers tak perlu menjadi corong manis pemerintah, tetapi juga tak harus selalu mengambil posisi berseberangan secara membabi buta. Posisi ideal pers adalah berdiri kokoh di tengah masyarakat:
1. Puji keberhasilan pembangunan jika itu nyata.
2. Kritik kebijakan jika mendatangkan preseden buruk bagi publik.
3.Beri ruang bagi suara-suara kecil yang terbungkam.
Jurnalisme kelas tinggi bukan sekadar mengabarkan peristiwa, melainkan membantu masyarakat melihat persoalan secara jernih dan proporsional.
34 Tahun: Momentum Merawat Integritas
HUT ke-34 PWI Kotim sepatutnya tidak berhenti sebagai seremoni potong tumpeng semata. Ini adalah momen untuk bertanya secara jujur pada diri sendiri:
1. Sudahkah pers daerah memberi manfaat nyata bagi masyarakat Kotim?
2. Sudahkah desa–desa dan masyarakat adat mendapat porsi pemberitaan yang layak?
3. Sudahkah pers mampu menjaga jarak dari kepentingan politik serta ekonomi tanpa kehilangan keberanian?
Refleksi yang tidak nyaman ini penting agar organisasi tidak merasa “selesai”, melainkan terus meneguhkan arah.
Teknologi boleh berganti, platform berita boleh terus berevolusi, tetapi kebenaran dan integritas tidak boleh dinegosiasikan. Kepercayaan publik lahir dari proses verifikasi yang disiplin dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kata yang ditulis.
Menjaga Catatan Zaman
Merayakan 34 tahun PWI Kotim adalah merayakan pengabdian. Dari kota hingga pelosok desa, dari ruang redaksi hingga pesisir pantai, pers harus tetap hadir untuk melihat, mendengar, memeriksa, dan mengingatkan. Suatu hari nanti, ketika hiruk-pikuk hari ini telah menjadi masa lalu, tulisan-tulisan jurnalistik inilah yang akan menjadi jejak sejarah mencatat bagaimana Kotawaringin Timur pernah tumbuh, berjuang, dan berubah.
Selamat HUT ke-34 PWI Kotawaringin Timur, teruslah menjadi garda terdepan dalam menjaga independensi, merawat keragaman, mengawal pembangunan, dan memastikan setiap jengkal cerita di tanah Kotim memiliki catatan yang jujur bagi generasi mendatang.***










