PALANGKA RAYA – Antrean kendaraan untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite, kembali mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya. Kondisi ini kembali dikeluhkan masyarakat setelah persoalan serupa sempat terjadi pada Mei 2026 lalu.
Wakil Ketua III DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Junaidi, menilai munculnya kembali antrean panjang ini harus menjadi perhatian serius PT Pertamina (Persero). Menurutnya, situasi saat ini seperti mengulang persoalan klasik yang tidak kunjung usai. Ia menyayangkan sikap Pertamina yang kerap mengeklaim stok aman, namun kondisi riil di lapangan justru bertolak belakang.
“Ini kasetnya pasti kembali seperti kemarin, kan? Awalnya Pertamina selalu mengatakan, ‘Stok cukup, stok cukup.' Kan seperti itu. Nah, namun kenyataannya kan tetap antre di mana-mana, kan?” ujar Junaidi, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurut legislator Demokrat itu, antrean panjang di SPBU dapat menjadi indikator adanya persoalan dalam penyaluran BBM. Ia meminta Pertamina tidak hanya memastikan ketersediaan stok, tetapi juga menjamin jumlah yang disalurkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Palangka Raya.
“Dulu saya pernah mengatakan, kalau di SPBU itu antre, itu pasti kurang salur. Itu satu aja rumusnya,” katanya.
Ia menegaskan, jika antrean kembali terjadi di sejumlah SPBU se-Kota Palangka Raya, pihaknya menduga kebutuhan BBM masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi. Karena itu, ia meminta Pertamina segera mengevaluasi penyaluran BBM dan memastikan kuota yang telah ditetapkan benar-benar dipenuhi.
Junaidi juga mengingatkan posisi Kalteng sebagai daerah penghasil energi sehingga kebutuhan BBM masyarakat semestinya mendapat perhatian. “Tolong untuk Kalteng, kita ini kan sumber energi, kita penghasil energi, tolong untuk kuota BBM kita jangan dikurangin,” ujarnya.
Junaidi menyebut kuota BBM Kota Palangka Raya sebelumnya berada di kisaran 205 kiloliter. Angka tersebut harus dipenuhi apabila memang menjadi kebutuhan yang telah ditetapkan.
“Kalau memang kemarin kuota Kota Palangka Raya 205 kiloliter, kan? Tolong itu dipenuhi. Itu aja, sederhana aja rumusnya. Sangat sederhana. Kalau terjadi antre, berarti kurang salur. Kalau memang salurnya cukup, tidak mungkin terjadi antre,” katanya.
Menanggapi antrean yang lebih banyak terjadi pada Pertalite, Junaidi mengatakan persoalan tidak dapat hanya dilihat berdasarkan satu jenis BBM. Ia menilai kecukupan distribusi secara keseluruhan tetap menjadi faktor utama. “Apa pun jenisnya, kalau seluruh akumulasi itu kurang salur, biasanya akan terjadi antre, itu aja,” pungkasnya.
(Syauqi)











