Editor: A Uga Gara
PALANGKA RAYA – Total nilai ekspor Provinsi Kalimantan Tengah untuk tahun 2018 mencapai angka US$ 200,16 juta. Bahan bakar mineral masih menjadi komoditas primadona ekspor di Kalimantan Tengah.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, Fahrizal Fitri usai membuka acara Kajian Kebijakan Luar Negeri dengan tema “Outbound Investment dan Strategi Ekspor Indonesia ke Kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah pada Selasa (26/2/2019) di Palangka Raya.
“Bahan bakar mineral berkontribusi sebesar 59,18 persen dari total nilai eskpor yang ada selanjutnya India adalah negara mitra dagang utama destinasi ekspor dari Kalimantan Tengah” ucap Fahrizal.
Menurut Fahrizal secara kumulatif nilai ekspor Kalimantan Tengah dari Januari-Desember 2018 sebesar US$ 1.903,11 juta. Hal tersebut merupakan potensi atas sumber daya alam yang dimiliki oleh Kalteng, tidak hanya itu dari sektor selain pertambangan seperti perkebunan, kelautan dan perikanan.
Dari sektor perkebunan khususnya kelapa sawit untuk produksi CPO per tahun di Kalteng mencapai 9,24 juta ton dimana kontribusi CPO Kalteng dalam kontribusi nasional mencapai 24,64 – 26,41 persen yang juga turut menjadi komoditas ekspor Kalteng.
Lanjut Fahrizal dengan adanya acara kajian kebijakan luar negeri tersebut yang dilaksanakan di Palangka Raya dapat membuka peluang-peluang ekspor tidak terkecuali hasil produksi Kalimantan Tengah yang dapat menargetkan negara khususnya yang berada di Asia Tengah dan Selatan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI, Arifin Saiman. Dia mengatakan bahwa dengan luasnya wilayah yang dimiliki oleh Provinsi Kalteng tentu dapat menjadi potensi untuk tidak sekedar mencukupi kebutuhan dalam negeri namun juga untuk kebutuhan ekspor.
“Selain ekspor ke negara yang menjadi mitra dagang Indonesia harapannya dengan memperluas wilayah ekspor akan menambahkan suatu opsi andaikan suatu wilayah ada yang mempersulit untuk ekspor komoditas tertentu” ucap Arifin.
Dia mencontohkan seperti Uni Eropa yang sempat melarang masuknya CPO dari Indonesia beberapa waktu yang lalu maka andai hal tersebut terus berlanjut maka ekspor dapat dialihkan ke wilayah lainnya seperti misalnya ke kawasan Asia Selatan dan Tengah.
(apr/beritasampit.co.id)












