Ditulis oleh Moh. Anis Romzi Seorang Guru dan kepala Sekolah di SMPN 4 Katingan Kuala, Kabupaten Katingan
Tantangan dunia kerja saat ini mulai mengalami perubahan yang signifikan, bayangkan saja dulu seseorang ingin memulai usaha jualan barang harus menyediakan modal yang besar. Tidak cukup modal melainkan juga tenaga yang besar. Orang yang ingin berjualan harus memajang barang dagangannya agar dapat dilihat oleh pelanggan. Tetapi tidak dengan sekarang. Dengan hanya bermodal sebuah pegawai dan paket data siapa saja dapat berjualan.
Pekerjaan menjual tidak bisa lagi dimonopoli oleh seseorang yang berdagang. Begitu pula pekerjaan yang lain. Seseorang dapat belajar dengan begitu cepat hanya dengan fasilitas video tutorial. Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup yang harus cepat dan instan menuntut pengutan sumber daya manusia (SDA), lalu kemudian dengan kemajuan ini muncul pertanyaan apa yang harus dipersiapkan generasi sekarang untuk menyongsong revolusi 4.0?
Perubahan dan cepatnya teknologi informasi yang tak terduga membawa perubahan yang signifikan. Menurut saya ini akan membawa siapa yang tidak siap akan tergilas. Mereka akan hanya menjadi penonton dan menghadapi kekagetan-kekagetan yang tidak berkesudahan. Ini karena perubahannya pun begitu cepat.
Maka generasi muda khususnya para pelajar harus menyiapkan diri untuk ini. Tugas seorang pendidik tidak lagi hanya mengajar akan tetapi menjadi fasilitator untuk mempermudah para pelajar menghadapi perubahan ini.
Mereka (para pendidik dan pelajar) harus saling melengkapi. Tidak ada lagi sekat pengetahuan antara pendidik dan peserta didik keduanya sama-sama belajar. Membangun kreatifitas bersama adalah jawaban.
Kreatifitas harus dibangun di relung-relung pendidikan kita. Lembaga-lembaga pendidikan harus menyiapkan anak-anak masa depan untuk perubahan. Sikap mental yang harus ditanamkan sejak dini lewat dunia pendidikan adalah wirausaha. .
Hal ini mengingat peluang-peluang di sektor wirausaha masih sangat terbuka. Selain itu semakin menyempitnya peluang pekerjaan bidang pemerintahan misalnya PNS atau ASN. Tiap tahunnya lembaga perguruan tinggi selalu menghasilkan lulusan yang tidak siap bekerja melainkan hanya mencari pekerjaan. Bukan semata salah perguruan tinggi, melainkan sejak dini bangku pendidikan kita memang mencetak para pencari kerja, bukan pembuat kerja. Terus? Belum terlambat, kalaupun tidak ingin dibilang daripada tidak sama sekali. Harus ada perubahan paradigma pendidikan dasar tentang penanaman sikap-sikap kewirausahaan sejak di bangku sekolah.
Sekolah harus melahirkan wirausahawan/wati kreatif sejak dini dan kemudian akan berlanjut di jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Sumber daya alam dan manusia mengalami perkembangan tidak linear. Sumber daya alam semakin menipis sedangkan sumber daya manusia melonjak. Ini akan terjadi pada tahun 2035 Indonesia akan mengalami booming angkatan kerja.
Dimana angkatan kerja produktif akan mengalami bonus demografi. Ini bagaikan dua mata pisau. Apabila tidak terkelola dengan baik bisa jadi menjadi senjata makan tuan bagi si empunya.
Kembali angkatan kerja masyarakat Indonesia harus memiliki masyarakat dengan jiwa wirausaha lagi kreatif. Ia tidak muncul dengan sendirinya tetapi harus melewati pembelajaran. Itulah tugas dunia pendidikan. Ketika sumber daya alam menipis maka kreatifitas adalah jawaban untuk mengelola agar memiliki pertambahan nilai.
Peran mesin dominan mengambil alih tugas manusia di masa lalu dan akan terus berjalan. Manusia-manusia Indonesia harus diajarkan kreatif. Bukan belajar apa yang dikerjakan mesin. Lembaga pendidikan harus segera menyadari untuk berbenah. Paradigma mencetak nilai di atas kertas harus digeser pada ranah kreatifitas dan inovasi. Inilah yang seharusnya dimiliki manusia pembelajar.
Semoga dunia pendidikan segera tersadar. Dengan dukungan dan kemauan politik pemerintah tentunya. Jiwa wirausaha, kreatifitas, inovasi tidak dimiliki oleh mesin. Manusialah yang memiliki itu. Maka bangunkan, pupuk dan rawat agar bersemi di masa depan. Masih belum terlambat.
*Moh. Anis Romzi selain sebagai pengajar merupakan penulis buku, Berikut beberap karyanya 1. Kepala Sekolah Belum Berpengalaman, 2. aku Mengabdi pada-Mu (aMMu), 3. ANT-B (Anak-Anak Tahan Banting)












