51 Korban Serangan Buaya dalam 15 Tahun Terakhir, 7 Orang Meninggal Dunia

IST/BERITASAMPIT - Foto ilustrasi buaya.

SAMPIT – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit mencatat ada 51 warga (Kotim) yang diserang buaya sepanjang 15 tahun terakhir.

Keberadaan buaya yang hidup di sekitar manusia, menjadi tantangan tersendiri untuk berhati-hati dan waspada. Bagaimana tidak, buaya yang hidup perairan tawar, laut, sungai, danau, rawa, dan lahan basah ini mudah sekali menyerang manusia.

Hewan reptil ganas yang hidup juga di pulau Kalimantan ini, kemunculanya selalu membuat masyarakat ketakutan. Walau muncul, kemudian pergi. Namun, tidak jarang juga masyarakat setempat menjadi korban serangan buaya.

“Harus di akui, sulit terwujud kalau cuma kami (BKSDA) yang melakukannya.
Ini harus melibatkan banyak pihak. Pemda dan warga masyarakat khususnya yang tinggal di bantaran sungai juga harus terlibat,” kata Kepala BKSDA Pos jaga Sampit, Muriansyah, Rabu 15 Januari 2025.

Berdasarkan data BKSDA sejak tahun 2010-2015 ini sebanyak 51 warga yang diserang buaya di sejumlah wilayah di Kotim. 7 diantaranya meninggal dunia, luka ringan 21, luka berat 7, dan sisanya tidak mengalami luka.

Wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS) yang paling banyak memakan korban yakni 16 orang, Teluk Sampit 13, Seranau 8, Pulau Hanaut 4, Cempaga 4, MHU 3, dan MB Ketapang 3.

Penyebab datangnya buaya ini contoh, kandang ternak yang berada di tepi sungai atau di atas sungai. Perilaku warga yang membuang bangkai binatang ke sungai ini mengundang buaya dan satwa liar lainnya datang ke lokasi tersebut.

Aktivitas yang dilakukan saat diterkam buaya yakni, Mandi Cuci dan Kakus (MCK) 40, mencari ikan/karang/udang 8, jatuh 1 dan aktivitas lainnya 2. Muriansyah mengakui memang dengan kegiatan di tepi sungai paling rawan buaya, tapi kandang ternak warga yang berdekatan menjadi pemicu.

baca juga ...  Hajatan Cabang FIF Group Disambut Meriah Warga Sampit, Tawarkan Promo, Aksi Sosial dan Fun Run

“Kegiatan MCK ini paling sering, memang paling mudah buaya datang langsung menerka. Contoh di Ganepu dulu. Tapi setelah kita komunikasi dengan kadesnya, mengadakan mesin air dan profil supaya warga tidak lagi beraktivitas ditepi sungai,” pungkasnya.

(Ibra)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!