Netizen Dukung Penertiban Kawasan Kumuh dan Penggunaan Sound System di Nur Mentaya Sampit

NARDI/BERITASAMPIT - Komentar Warganet Facebook Berita Sampit.

SAMPIT – Beberapa netizen memberikan dukungan terhadap langkah penertiban yang dilakukan Camat Baamang bersama instansi terkait, serta penegakan larangan penggunaan sound system dengan volume keras dan kondisi warung yang kumuh di kawasan Nur Mentaya, Sampit, (Kotim).

Dukungan tersebut terlihat dalam berbagai komentar di akun media sosial Facebook Berita Sampit mengenai larangan musik keras, yang menyebutkan bahwa jika melanggar, sound system akan disita. Hal ini diumumkan pada Kamis, 6 Februari 2025.

Akun Mohamad Fajar menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut, dengan alasan bahwa suara sound system yang keras sangat mengganggu kenyamanan, terutama bagi keluarga dengan anak kecil yang membutuhkan ketenangan untuk beristirahat.

“Mantap Pak Camat, sangat mengganggu istirahat di malam hari sound systemnya, kasihan yang punya anak kecil,” tulisnya.

“Mantap pak camat,” tulis Riduan kesuma.

“Mantap, oke buktikan,” timpal akun Dodi kilat.

“Tesarah orang kam ja handak ditutup permanen gin kdapapa mun memang mahaur orang kam makan,” tambah akun Martono.

“Jadi wadah maksiat ganti yang di bundaran KB,” kata Tomi Zha.

Selain musik keras, Daniah Debora dan netizen lainnya menilai kondisi kawasan tersebut terlihat kumuh di siang hari dan perlu dirapikan.

“Merusak tatanan kota, jadi kumuh kalau dilihat siang hari. Lebih baik dirapikan,” komentarnya.

“Mulai kumuh am,” tulis akun Didi M

“Mantap Pak Camat, kalau bisa ditertibkan, dibersihkan juga kayu-kayu penyangga di bawah trotoar itu masih ada yang tersisa, memperlambat pengaliran arus air,” ujar Iwan R.

“Masyarakat wajib membuktikan omongan camat Baamang ini ,supaya lancar dan sukses,” sahut akun Djarnata.

“Bujur(benar) jua ngaranya (namanya) bangunan punya pemerintah kita masyarakat yang salah memilih orangnya jadi bupati dan dewan samalam (kematin) dan coba ulah (membuat) didepan rumah kita masing2 ja rami (ramai) jua ai tapi apakah lagi jar buhanya (kata mereka) yang kita gajihi tu,” tulis Deltaris.

baca juga ...  Pupuk Subsidi Langka di Kotim, PT Pupuk Indonesia Turun Sidak dan Beri Teguran Keras

“Bapadah (bilangnya) kumuh tapi ganjang (tetap asyik)ja nongkrong dan bjoget2. kasian yang bujur2 (benar) berjualan yang kdd (tidak) memakai musik terkena imbasnya jua. jangan jua mematikan rejeki orang,” kata akun Shery Naya.

“Kedida (tidak ada) kebagus nya kumuh camuh (carut marut),” timpal akun Anna.

“Siang2 lewat keliatan kumuh,, sayang padahal susdah bagus trowongan tapi pingirannya kumuh,” Santed Sr.

“Pretttt .. lalu ja buhan Pian MLM Minggu .. akoyyyyy hibak parkiran … Sdhnya am masing2 warung lwan salon x ..,” kata Siti Adha.

Diberitakan sebelumnya Camat Baamang, Sufiansyah, menyatakan bahwa pihaknya telah menggelar rapat bersama instansi terkait dan asosiasi pedagang guna membahas penataan kawasan Nur Mentaya.

“Kami ingin memastikan para pedagang tertib, tidak ada lagi peredaran minuman keras, musik tidak diputar dengan volume tinggi,” kata kata Sufiansyah, Rabu 5 Februari 2025.

Jika tetap ada musik keras maka akan disita sound sistemnya, kemudian bangunan kumuh akan ditertibkan oleh Satpol PP. Selain itu, truk juga dilarang parkir di sekitar Jalan Terowongan Nur Mentaya.

(Nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!