JAKARTA– Sektretaris Fraksi Golkar DPR RI Mukhtarudin mendukung kerjasama bilateral antara Indonesia dan Turki dalam penerapan teknologi canggih untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
“Saya kira kerjasama untuk percepatan EBT ini adalah sebuah langkah besar menuju masa depan berkelanjutan,” tutur Mukhtarudin, Sabtu 15 Februari 2025.
Anggota Komisi XII DPR ini mengatakan bahwa inovasi teknologi akan menjadi salah satu faktor kunci pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di tanah Air.
Mengingat, lanjut Mukhtarudin keberhasilan pengembangan EBT salah satunya sangat bergantung pada inovasi dan kemajuan teknologi.
“Kemajuan teknologi akan memungkinkan EBT menjadi lebih terjangkau dan lebih ekonomis. Selain itu, keberhasilan pengembangan EBT akan merangsang pembangunan ekonomi bangsa kita” tandas Mukhtarudin.
Untuk otu, politisi Dapil Kalteng ini berharap dukungan dari para pemangku kepentingan kepada Pemerintahan daat ini dalam membuka peluang untuk mengeksplorasi pemanfaatan energi terbarukan secara mendalam.
“Pemanfaatan EBT menjadi salah satu program prioritas untuk mengurangi ketergantungan negara pada fosil, dan pada saatnya akan mendukung peningkatan stabilitas ekonomi nasional,” pungkas Mukhtarudin.
Teken MoU
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Republik Turkiye Alparslan Bayraktar telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di bidang energi dan sumber daya mineral.
“Dengan dukungan dan kolaborasi dari mitra internasional sangat penting agar kita dapat mengejar swasembada energi sesuai dengan arahan Bapak Presiden Prabowo,” ujar Bahlil.
Bahlil mengatakan kerja sama antara Indonesia dengan Turki meliputi tentang pengembangan EBT, pembangkit listrik, distribusi dan transmisi listrik, pengembangan hidrokarbon, serta teknologi baru yang meliputi hidrogen, nuklir, dan baterai.
“Kerja sama ini akan berlaku selama lima tahun dan bisa diperpanjang dengan tambahan waktu lima tahun dengan kesepakatan antara kedua negara,” kata Bahlil.
(adista)












