DPRD Kotim Soroti Akses Vital Sungai Hantipan, Minta Pemerintah Ambil Langkah Serius

IST/BERITA SAMPIT - Anggota DPRD Kotim, Eddy Mashami.

SAMPIT – Anggota (Kotim) Eddy Mashami dari Daerah Pemilihan III turut menyoroti kondisi Sungai Hantipan yang macet saat musim mudik Idulfitri ataupun saat air surut dan kemarau.

Ia menegaskan, alur sungai tersebut sangat vital sebagai jalur utama masyarakat bagian selatan menuju Sampit.

“Ini akses terdekat bagi warga Kuala, Pagatan, Mendawai dan sekitarnya ke Sampit. Kalau harus ke ibu kota kabupaten di Kasongan, mereka harus menyusuri Sungai yang jauh dan belum ada akses darat,” ujar Eddy Mashami, Sabtu 5 April 2025.

Politisi PAN ini mengungkapkan, sejumlah kendala teknis menghambat solusi di lapangan. Lokasi sungai berada di kawasan hutan dan masuk dalam konsesi IUPHHK-RE milik PT Rimba Makmur Utama.

Selain itu, dasar sungai masih dipenuhi akar-akar pohon rawa yang keras dan sulit dibersihkan tanpa alat berat.

“Permasalahan makin parah saat musim kemarau atau air surut. Perahu kerap kandas karena alur tidak cukup dalam. Lokasinya pun sudah mendekati perbatasan antara Kotim dan , jadi koordinasi antarwilayah sangat penting,” jelasnya.

Eddy yang juga pernah menjabat ssbagai Camat Pulau Hanaut ini juga menyebut upaya yang pernah dilakukan, seperti rencana kerja sama antar Hantipan (Kotim) dan Mendawai () untuk membuka jalan darat pada 2018/2019, namun belum terealisasi.

Gotong royong warga dan permintaan bantuan ke perusahaan sekitar pun belum mampu menyelesaikan persoalan utama.

“Kami mendorong pemerintah daerah dan provinsi serius menangani ini. Jangan sampai masyarakat terus jadi korban setiap musim kemarau hanya karena minim perhatian terhadap akses transportasi mereka,” tegas Eddy.

Diberitakan sebelumnya arus balik Lebaran 2025 di Sungai Hantipan, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotim, dikeluhkan pemudik akibat kemacetan dan mahalnya biaya perjalanan.

baca juga ...  Polisi Selidiki Laporan Ketua DPRD Kotim soal Dugaan Pencemaran Nama Baik saat Aksi Demo

Saat air surut, warga harus berganti perahu klotok hingga tiga kali dengan ongkos mencapai total Rp300 ribu, setara tiket kapal laut ke Jawa.

Devi, salah satu pemudik, menyebut kemacetan terjadi karena sungai dangkal dan dipenuhi batang kayu besar. Waktu tempuh pun bisa molor lebih dari satu jam. (nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!