Plt. Sekda Kalteng di HUT Integrasi Kaharingan-Hindu: Ritual Tak Boleh Sekadar Seremonial

– Di halaman Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) , semangat kebersamaan terasa hangat, meski pagi masih berselimut mendung.

Sabtu, 19 April 2025, ratusan umat dan tokoh adat berkumpul memperingati 45 tahun integrasi ajaran Kaharingan dengan Hindu. Perjalanan panjang keagamaan yang tak hanya soal keyakinan, tetapi juga identitas budaya.

Plt. Sekretaris Daerah , H.M. Katma F. Dirun, mewakili Gubernur dalam upacara tersebut. Dengan pakaian adat rapi dan langkah tenang, ia naik ke podium, membacakan sambutan gubernur yang sarat pesan.

“Peringatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus dimaknai sebagai penguatan nilai dan ajaran Hindu Nusantara,” ucap Katma, lirih tapi tegas.

memang punya wajah keagamaan yang khas. Kaharingan yang sejak 1980 resmi terintegrasi ke dalam Hindu bukan hanya agama, tapi cara hidup masyarakat Dayak.

Dan itu, kata Katma, harus terus dirawat, lewat ritual, tradisi, dan solidaritas sosial yang tak lekang oleh waktu.

Ia mengajak umat menjaga falsafah Huma Betang, sebuah pandangan hidup Dayak yang menempatkan harmoni di atas segala perbedaan.

“Kita punya kampus ini sebagai simbol kebersamaan. Balai Induk Kaharingan Garing Nganderang dan Gedung Kayu Erang Tingang yang baru diresmikan juga menjadi penanda komitmen kita,” tambahnya.

Tak hanya mengafirmasi pembangunan fisik, pemerintah, kata Katma, memberi dukungan pada pertumbuhan nilai spiritual di tengah masyarakat.

“Pembangunan tak melulu soal jalan dan jembatan. Tapi juga tempat ibadah, pusat pendidikan, dan ruang-ruang penghayatan,” tambahnya.

Di akhir pidatonya, Katma menyuarakan semangat Belom Bahadat hidup dalam sopan santun dan aturan adat.

“Itulah akar dari Kalteng BERKAH, dari Kalteng yang ingin kita bawa maju,” pungkasnya.

baca juga ...  Meski Anggaran Ketat, Pemprov Kalteng Gaspol Bangun Infrastruktur

Perayaan ulang tahun integrasi ini bukan sekadar melihat ke belakang. Tapi juga menatap ke depan, pada masa ketika nilai-nilai lokal tak sekadar dirayakan, tapi dijadikan pegangan dalam menyusun arah pembangunan.

(Sya'ban)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!