PALANGKA RAYA – Suasana berbeda menyelimuti Rumah Sakit Siloam Palangka Raya, Sabtu pagi, 19 April 2025.
Deretan perempuan dari berbagai latar belakang tampak antre dengan tertib di ruang tunggu pemeriksaan.
Hari itu, mereka mendapat kesempatan langka: skrining kanker payudara dan leher rahim secara gratis.
Di antara kerumunan itu, sosok Aisyah Thisia Agustiar Sabran, Ketua Tim Penggerak PKK Kalimantan Tengah, turut hadir.
Tak sekadar memberi sambutan, ia juga ikut menjalani pemeriksaan. “Ini bentuk deteksi dini. Jangan tunggu sakit baru periksa,” katanya lantang.
Program ini merupakan kolaborasi antara TP PKK Kalteng dan RS Siloam Palangka Raya dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak PKK ke-53.
Namun di balik kegiatan itu, ada misi besar yang tengah dijalankan: memerangi kanker sejak dini, lewat gerakan bertajuk Selangkah akronim dari Semangat Lawan Kanker.
“Program ini adalah respon atas kenyataan pahit: 70 persen kanker payudara di Indonesia baru terdeteksi saat stadium tiga,” ujar Direktur RS Siloam Palangka Raya, dr. Indriyani Wijaya.
Ia menyebut, sejak diluncurkan Maret 2023, Selangkah telah menjangkau lebih dari 33 ribu perempuan di seluruh Indonesia.
Di Kalimantan Tengah, program ini sudah menyasar warga di Buntok, Lapas Wanita Palangka Raya, dan kini masyarakat umum.
RS Siloam menyediakan layanan USG payudara dan pap smear secara cuma-cuma, menargetkan mereka yang paling rentan: perempuan dengan keterbatasan akses kesehatan.
“Kami tidak ingin ini jadi sekadar seremoni. Harapannya, ini menjadi gerakan berkelanjutan yang menggugah kesadaran kolektif perempuan untuk peduli pada kesehatannya,” ucap Indriyani.
Menurut Aisyah, kerja sama ini menjadi babak baru bagi TP PKK yang selama ini lebih banyak bermitra dengan OPD pemerintah.
“Saya terbuka untuk kolaborasi dengan siapa pun, termasuk pihak swasta. Yang penting tujuannya jelas: kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti persoalan klasik di pedalaman Kalimantan: masih banyak remaja perempuan menikah di usia 15 tahun. Ini, kata dia, memicu risiko kesehatan reproduksi dan stunting pada anak.
“Kalau kita ingin mencetak SDM unggul, ya mulainya dari perempuan yang sehat. Jangan biarkan mereka tumbuh dalam ketidaktahuan,” ujar Aisyah.
Program ini dijadwalkan berlangsung dua hari. Tapi harapannya, gema dari deteksi dini ini terus menggema jauh lebih lama hingga menjangkau desa–desa di sudut Kalteng yang masih luput dari perhatian.
(Sya'ban)












