Menuju Swasembada Pangan: Percepat Cetak Sawah dan Perkuat Investasi Industri

– Terselip di antara dinamika ekonomi dan tantangan global yang tak menentu, menyatakan tekadnya: swasembada pangan adalah harga mati.

Dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Tahun 2025 yang digelar Bank Indonesia Kalteng, Rabu, 30 April 2035, Pemerintah Provinsi menegaskan komitmen mendukung agenda lewat penguatan sektor pertanian dan industrialisasi.

Mewakili Gubernur, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sri Widanarni membacakan sambutan yang menekankan pentingnya sinergi pusat-daerah dalam mewujudkan prioritas , terutama dalam ketahanan pangan.

“Program cetak sawah bukan sekadar target produksi, ini adalah pijakan menuju kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dari podium lantai empat Gedung KPw BI .

Dengan target ambisius 85 ribu hektar cetak sawah di tahun 2025, menggarap lumbung pangan di 10 kabupaten/kota, dari hingga . Hingga April, 66,9 ribu hektar telah berkontrak.

Di tengah semangat itu, Sri memaparkan lonjakan produksi padi dari 330 ribu ton pada 2023 menjadi 475 ribu ton tahun depan.

Tak kalah penting, program bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) turut digelontorkan. Sebanyak 1.308 unit disiapkan demi menopang produksi dan efisiensi pertanian, termasuk traktor, pompa air, hingga dryer.

“Inilah bentuk konkret Kartu Huma Betang Sejahtera, perhatian untuk petani dan nelayan,” tegasnya.

Namun tantangan datang bukan hanya dari ladang dan sawah. Dalam paparan berikutnya, Kepala BI Kalteng Yuliansah Andrias mengingatkan soal tekanan eksternal, terutama dampak tarif dagang global.

“Kebijakan tarif AS versi Trump 2.0 berpotensi menekan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ,” ujarnya.

Di sisi lain, inflasi diprediksi meningkat, didorong lonjakan permintaan emas sebagai aset aman saat ketidakpastian global memuncak.

baca juga ...  Pemprov Kalteng Ajak Doakan Korban Banjir dan Longsor di Momen Natal

Meski begitu, BI optimistis inflasi bisa dijaga dalam sasaran , terutama lewat kendali harga pangan dan dorongan produksi lokal.

Hilirisasi industri, terutama sawit dan pengembangan Kawasan Industri, disebut sebagai lokomotif baru pertumbuhan ekonomi provinsi.

Tapi itu pun tak lepas dari masalah klasik: regulasi yang tumpang tindih dan infrastruktur yang belum memadai. “Investasi industri di daerah memerlukan keberanian dan keberpihakan regulasi,” pungkas Yuliansah.

Hadir dalam forum itu perwakilan Forkopimda, Kepala OJK Kalteng, Kepala BPS, akademisi, pimpinan perbankan, serta pejabat OPD.

Di antara grafik dan statistik, terselip harapan: agar tak hanya jadi penyumbang angka, tapi penggerak utama Indonesia Emas 2045.

(Sya'ban)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!