SAMPIT – Masih banyak masyarakat yang enggan mendonorkan darah salah satunya karena termakan mitos yang keliru. Untuk itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meluruskan berbagai anggapan salah yang beredar seputar donor darah.
Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Kotim, Aldila Tiurmawati Lumban Gaol menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami informasi yang benar sebelum memutuskan untuk tidak berdonor.
Salah satu mitos yang cukup umum ialah anggapan bahwa donor darah membuat tubuh menjadi gemuk.
Faktanya, donor darah tidak berpengaruh terhadap berat badan. Anjuran makan setelah donor bertujuan untuk mengembalikan cairan tubuh dan volume darah, bukan menambah lemak.
Mitos lain yang juga sering beredar adalah keyakinan bahwa darah bisa dibuat. Menanggapi hal itu, PMI Kotim menegaskan bahwa hingga saat ini darah hanya bisa didapat dari manusia.
Faktanya darah adalah pemberian Tuhan dan belum ada teknologi yang mampu menciptakan darah sintetis. Karena itulah donor darah tetap menjadi kebutuhan penting dalam dunia medis.
Sementara itu, menjelang bulan Ramadan yang lalu, ada juga anggapan bahwa donor darah dilarang saat berpuasa, hal itu tidak benar.
Donor darah tetap dapat dilakukan oleh seseorang yang berpuasa dengan ketentuan telah didahului dengan makanan sahur dengan makanan yang berserat tinggi serta banyak minum air dan tidur cukup.
Waktu yang disarankan untuk mendonor darah adalah beberapa saat setelah sahur atau menjelang buka puasa.
Dengan meluruskan berbagai mitos ini, PMI Kotim berharap masyarakat semakin terbuka dan tidak ragu untuk berdonor.
“Donor darah adalah bentuk kepedulian yang nyata. Selain menolong sesama, donor juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh,” kata Aldila, Kamis 8 Mei 2025. (nardi)












