SAMPIT – Aset daerah bernilai miliaran rupiah kini hanya jadi tontonan menyedihkan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Alat berat yang semestinya menjadi tulang punggung pembangunan daerah justru mangkrak dan nyaris berubah menjadi besi tua.
Kondisi memprihatinkan ini memicu sorotan tajam dari publik yang mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mengelola aset vital tersebut.
Praktisi dan pengamat pengadaan barang dan jasa pemerintah, Rudy Irwandy, angkat bicara. Ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk kelalaian serius dan mendesak aparat penegak hukum untuk turun tangan menyelidiki potensi penyalahgunaan anggaran.
Pria yang akrab disapa Bang Yuyud ini menyebutkan, program pengadaan alat berat yang digagas oleh Bupati Kotim sejatinya merupakan langkah positif sebagai solusi percepatan pembangunan desa, terutama dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat. Namun sangat disayangkan, implementasinya dinilai buruk.
“Ini program bagus, tapi pelaksanaannya oleh SOPD terkait sangat tidak terencana dan tidak terukur,” tegas Rudy, Jumat, 9 Mei 2025.
Mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan pengadaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan alat berat. Padahal alat ini bukan barang murah, miliaran rupiah uang negara sudah dihabiskan.
Ia menyebutkan, kondisi terkini memperlihatkan banyak alat berat di kecamatan yang dibiarkan mangkrak dan rusak.
Hal itu menurutnya tidak hanya mencerminkan pemborosan, tapi juga berpotensi menimbulkan kerugian negara.
“Sudah selayaknya aparat penegak hukum turun tangan menelisik program pengadaan ini. Harus diaudit sejak awal pelaksanaan oleh Dinas Pertanian Kotim, mulai 2021 hingga 2024,” ungkapnya.
Dirinya menduga bisa saja dalam prosesnya terdapat unsur penyelewengan yang merugikan keuangan negara. Ia pun mendorong agar ada pertanggungjawaban dan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dinas terkait.
(Nardi)












