PALANGKA RAYA – Langit Sabtu sore mulai menguning ketika denting alat musik tradisional menyambut langkah para tamu di Rumah Betang.
Suasana halaman berubah semarak, bukan karena seremoni protokoler, tetapi lantunan lagu dan gerakan energik para pemuda. Di sanalah semangat muda Kalimantan Tengah mengalir melalui Panggung Dispora.
Plt Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah, Leonard S. Ampung, berdiri di tengah kerumunan, menyaksikan anak-anak muda menampilkan bakat mereka.
Ia tidak datang sekadar memberi sambutan, tapi mengukuhkan pesan: bahwa panggung ini bukan panggung biasa, melainkan awal dari gerakan budaya baru.
“Ini permulaan, bulan depan akan lebih besar. Tempatnya berputar, tapi titik utama tetap: Bundaran Besar. Di sana, Gubernur ingin ruang publik kita diisi talenta-talenta seperti ini,” katanya
Tak lama kemudian, Leonard menjelaskan bahwa program ini akan digelar rutin setiap Jumat dan Sabtu malam.
Dengan dukungan Bank Kalteng, kegiatan ini disiapkan bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai bentuk pengakuan. Pengakuan atas potensi, kerja keras, dan semangat anak muda Kalteng yang sering berjalan di lorong sunyi.
Ruang Baru untuk Anak Muda
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Agus Siswadi, menyambung benang harapan itu. Di balik panggung yang tampak sederhana, katanya, ada gagasan besar: menjadikan olahraga dan seni sebagai katalis pembangunan.
“Olahraga bukan hanya soal medali, tapi tentang kesehatan, pendidikan, ekonomi, bahkan diplomasi budaya,” ujarnya.
Agus menyebut tantangan keolahragaan saat ini tak lagi hanya bersifat lokal. Era digital dan globalisasi menuntut adaptasi.
Maka dari itu, ruang seperti Panggung Dispora harus dilihat sebagai bagian dari strategi nasional, bukan sekadar hiburan akhir pekan.
Dari Penonton Menjadi Pelaku
Ketua panitia kegiatan, Joni Sonder, menyebut Panggung Dispora sebagai “etalase talenta.” Di tempat ini, ujar Joni, para atlet yang biasa berlatih dalam diam diberi sorotan. Komunitas kreatif yang terbiasa berkarya di balik layar, kini tampil di depan publik.
“Ini bukan hanya soal menampilkan karya, ini soal mengubah ruang sosial dari konsumtif jadi produktif. Dari penonton menjadi pelaku,” katanya.
Malam kian larut ketika tepuk tangan menutup satu penampilan terakhir. Tapi antusiasme belum padam.
Para tamu, termasuk pengurus cabang olahraga, perwakilan KNPI, PCMI, dan para pemuda kreatif, masih berkumpul, berbincang, dan menyusun rencana ke depan.
Panggung Dispora mungkin hanya berdurasi dua malam sepekan. Tapi bagi generasi muda Kalteng, ini bisa menjadi awal dari panggung-panggung yang lebih luas: di tingkat nasional, bahkan dunia.
(Sya'ban)












