SAMPIT – Menjelang Hari Raya Iduladha, permintaan terhadap hewan kurban di Sampit diperkirakan meningkat. Salah satu pengusaha sapi kurban, Samsul Bahri, menyebutkan bahwa tren tahun ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang lebih tinggi untuk berkurban dibandingkan tahun sebelumnya.
“Perkiraan saya tahun ini jumlah warga yang berkurban lebih banyak. Saya sudah menyiapkan sekitar 300 ekor sapi dan 150 ekor kambing. Harga sapi bervariasi, mulai dari Rp20 juta hingga Rp40 juta,” kata Samsul Bahri, Sabtu 10 Mei 2025.
Ia menjelaskan, harga sapi yang ia jual tergantung pada berat bersih daging yang dihasilkan. Sapi seharga Rp20 juta memiliki berat daging bersih sekitar 80 hingga 85 kilogram, sedangkan sapi seharga Rp24 juta bisa menghasilkan daging hingga 120 kilogram.
Meski harga relatif sama dengan tahun sebelumnya, namun biaya angkut mengalami kenaikan signifikan.
“Tahun lalu biaya kapal per ekor sapi sekitar Rp2 juta, sekarang bisa mencapai Rp3 juta. Ini yang menyebabkan harga jual naik sekitar Rp1 juta dibanding tahun lalu,” lanjutnya.
Samsul juga menyebutkan bahwa jenis sapi yang ia jual adalah sapi madura dan peranakan madura-limosin, dan yang diminati masyarakat memang sapi madura dinilai memiliki kualitas daging yang lebih padat dan enak dibanding jenis lain, bahkan beberapa diberi jamu secara rutin untuk menjaga kebugaran.
“Sapi Madura itu perawatannya khusus, seminggu sekali kita kasih jamu. Dagingnya juga lebih padat dibanding sapi lain, makanya banyak yang suka,” ujarnya.
Saat ini, dari 300 ekor sapi yang disiapkan, sudah ada 70 ekor yang sudah dibeli atau dipesan oleh pembeli. Sebagian besar pesanan berasal dari masjid dan masyarakat sekitar. Misalnya, Masjid Perumahan Arjuno sudah memesan 10 ekor dan ada masjid lain yang memesan hingga 15 ekor.
Biasanya dinas yang membidangi peternakan akan datang memeriksa kesehatan hewan kurban sebelum Iduladha.
“Untuk sapi dari Jawa, pemeriksaan kesehatan dilakukan sebelum naik kapal dan dilengkapi dengan barcode sebagai tanda kelayakan, kemudian saat turun juga diperiksa, tandanya adalah barcode itu, jika tidak maka dikirim lewat jalur tidak resmi,” tutup Samsul. (nardi)












