KAWASAN kuliner Nur Mentaya di Kota Sampit biasanya menjadi salah satu titik keramaian setiap malam Minggu. Deretan lapak itu selalu ramai dikunjungi warga yang ingin bersantai menikmati suasana malam sambil mencicipi aneka jajanan saat weekend.
Namun Sabtu malam, 17 Mei 2025, suasana berbeda terlihat. Hujan yang turun sejak sore membuat kawasan tersebut sepi. Trotoar yang biasanya penuh meja dan kursi menjadi basah dan kosong. Para pedagang terpaksa menunda bahkan menutup lebih awal lapaknya. Momen yang biasanya menjadi puncak keramaian justru berubah menjadi malam yang dingin dan sunyi.
Ahmad Winardi,SE
LANGIT Kota Sampit tampak murung sejak Sabtu sore, 17 Mei 2025. Awan gelap perlahan menggantung di atas langit, seakan menyimpan hujan yang siap ditumpahkan kapan saja. Di bawah langit yang menggelayut berat itu, para pedagang di kawasan kuliner Nur Mentaya mulai bersiap-siap. Dengan langkah cekatan mereka menyusun meja, menggelar tikar, dan merapikan lapak-lapak dagangan yang akan menjadi saksi keramaian malam akhir pekan.
Suasana sore itu seperti biasa menyimpan harapan. Makanan mulai dimasak, para pedagang mengangkut bahan makanan minuman berharap malam Minggu akan membawa banyak pengunjung, seperti yang selama ini terjadi. Kawasan kuliner ini memang selalu ramai, menjadi tempat favorit warga Kota Sampit untuk bersantai sembari menikmati hidangan kaki lima dengan pemandangan sungai.
Namun kenyataan tidak seindah harapan. Rintik-rintik hujan mulai terdengar memukul atap tenda dan jalanan. Tanpa aba-aba, langit menumpahkan hujan dengan deras. Meja yang terlanjur diletakkan di trotoar buru-buru disingkirkan. Plastik-plastik besar dibentangkan untuk melindungi makanan dan barang dagangan dari tampias air hujan.
Trotoar tempat pengunjung duduk telah basah. Hujan tidak hanya mengusir keramaian, tetapi juga memadamkan semangat sebagian pedagang yang berharap pada malam Minggu.
“Kalau sudah hujan begini, sepi. Padahal ini malam yang paling ramai biasanya,” keluh salah satu pedagang.
Namun menjelang magrib, langit perlahan mereda. Hujan itu habis, hujan itu berhenti, menyisakan rintik-rintik kecil yang cepat mengering di atas aspal hangat. Beberapa pedagang mulai kembali menyusun kembali peralatan mereka. Meja dan tikar digelar ulang, tenda dibersihkan dari genangan air. Seolah memberi ucapan selamat datang, mereka bersiap menyambut pengunjung yang mulai berdatangan kembali dengan harapan baru.
Langit pasca hujan membawa nuansa tenang. Udara dingin justru membuat kawasan terasa lebih nyaman. Lampu-lampu tenda mulai menyala, menciptakan kilau cahaya yang memantul di permukaan jalan yang masih basah. Beberapa pengunjung yang datang membawa keluarga, teman sambil menikmati makanan atau minuman Suasana kembali hidup.
Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Malam semakin larut, menjelang pukul 21.30 WIB, gerimis kembali turun.
Satu per satu pengunjung mulai bangkit dari tempat duduk. Sebagian memilih langsung pulang, sementara yang lain berlarian mencari tempat berteduh. Pedagang yang memiliki area indoor tampak lega, karena pelanggan masih bisa bertahan. Namun bagi yang hanya mengandalkan tempat terbuka, pengunjung kembali menghilang.
Nur Mentaya kembali gelap dan lengang. Hujan yang turun lagi seakan menutup buku malam Minggu kali itu. Trotoar yang semula penuh tawa kini basah dan sepi.
Semakin larut maka satu per satu lapak dagangan dilipat, menandai berakhirnya malam yang tak sempat ramai. Begitulah nasib kawasan kuliner yang bergantung pada cuaca, kadang ramai dan penuh kehidupan, namun di malam hujan seperti ini, sunyi yang datang lebih dahulu. (Bersambung)












