Oleh: Adista Pattisahusiwa
Aksi protes yang digelar oleh para aparatur sipil negara (ASN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 27 Mei 2025 di kantor pusat BRIN, Jakarta, merupakan cerminan dari keresahan mendalam yang dirasakan oleh para pegawai.
Tuntutan mereka yang tegas pembatalan penempatan sementara, pengembalian ke daerah asal, dan pemecatan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko bukanlah sekadar luapan emosi.
Melainkan panggilan nyata untuk keadilan dan perbaikan tata kelola di lembaga yang seharusnya menjadi tulang punggung riset dan inovasi Indonesia.
Dalam konteks ini, solidaritas dan dukungan untuk perjuangan pegawai BRIN adalah langkah penting untuk memastikan bahwa ekosistem sains dan teknologi nasional dapat kembali berjalan pada jalur yang benar.
Pegawai BRIN, yang terdiri dari para peneliti, ilmuwan, dan tenaga pendukung, adalah pilar utama dalam misi besar BRIN untuk memajukan pengetahuan dan inovasi di Indonesia.
Namun, kebijakan penempatan pegawai yang dianggap tidak transparan dan sewenang-wenang telah menciptakan ketidakpastian dan ketidakadilan yang signifikan.
Berdasarkan pernyataan Kepala BRIN Handoko, penempatan sementara dilakukan karena adanya ketidaksesuaian kapasitas, kompetensi, atau bahkan hukuman disiplin.
Namun, alasan-alasan ini tidak cukup untuk membenarkan proses yang kurang jelas dan tanpa komunikasi yang memadai kepada pegawai.
Penempatan seperti ini, sebagaimana diatur dalam Peraturan BRIN No. 4 Tahun 2022 tentang Jabatan dan Kelas Jabatan, seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang inklusif, mempertimbangkan kebutuhan individu dan organisasi secara seimbang, serta memberikan ruang bagi pegawai untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Lebih jauh, protes ini bukan hanya soal penempatan pegawai, tetapi juga tentang kerusakan yang lebih besar dalam ekosistem sains dan teknologi nasional.
Sejak integrasi berbagai lembaga riset ke dalam BRIN berdasarkan Perpres 78 Tahun 2021, banyak pihak yang menyoroti tantangan dalam harmonisasi organisasi, termasuk dalam hal penempatan sumber daya manusia.
Pemetaan 11.419 pegawai pada Oktober 2021 seharusnya menjadi langkah awal untuk menciptakan struktur yang efisien, tetapi kenyataannya banyak pegawai merasa terabaikan.
Terutama mereka yang ditempatkan di luar homebase kawasan BRIN atau dialihkan ke tugas-tugas yang tidak sesuai dengan keahlian mereka, seperti di Biro Perencanaan dan Keuangan.
Ketidakpastian ini tidak hanya menurunkan moral kerja, tetapi juga menghambat produktivitas riset yang seharusnya menjadi inti misi BRIN.
Dukungan untuk pegawai BRIN bukan hanya soal membela hak individu, tetapi juga tentang memperjuangkan visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan riset dan inovasi global.
BRIN harus menjadi rumah bagi para ilmuwan dan peneliti yang merasa dihargai, didukung, dan diberi ruang untuk berkontribusi secara maksimal.
Kebijakan yang tidak manusiawi atau kurang transparan hanya akan melemahkan semangat para pegawai dan mengikis kepercayaan terhadap institusi.
Oleh karena itu, pimpinan BRIN perlu segera mengambil langkah konkret, mengevaluasi ulang kebijakan penempatan, membuka dialog terbuka dengan pegawai, dan memastikan bahwa setiap keputusan diambil dengan mempertimbangkan kesejahteraan dan aspirasi mereka.
Saya menyatakan dukungan penuh kepada para pegawai BRIN yang dengan berani menyuarakan kebenaran dan menuntut perubahan.
Perjuangan mereka adalah cerminan dari semangat untuk membangun BRIN yang lebih baik, yang mampu menjalankan mandatnya sebagai lokomotif riset dan inovasi nasional.
Pemerintah dan pimpinan BRIN harus mendengarkan suara mereka, bukan hanya sebagai bentuk tanggung jawab, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa potensi besar Indonesia dalam bidang sains dan teknologi tidak terhambat oleh masalah tata kelola.
Mari kita bersama-sama mendukung pegawai BRIN untuk mewujudkan ekosistem riset yang inklusif, transparan, dan berorientasi pada kemajuan bangsa.
Semangat, para pejuang BRIN! Suara kalian adalah harapan untuk masa depan riset Indonesia yang lebih gemilang. ***












