PALANGKA RAYA – RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya tercatat memiliki utang mencapai Rp120 miliar selama kurun waktu 2023 hingga 2024. Utang tersebut timbul akibat pembelian obat-obatan dan pembangunan gedung di lingkungan rumah sakit.
“Untuk beli obat, termasuk ada untuk membangun beberapa bangunan,” kata Plt Direktur RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya Suyuti Syamsul, Senin 3 Juni 2025.
Suyuti menilai salah satu kekeliruan yang terjadi pada manajemen sebelumnya adalah penggunaan pendapatan rumah sakit untuk membiayai pembangunan, padahal langkah tersebut dinilai berisiko apabila tidak disertai dengan kondisi keuangan yang benar-benar kuat.
“Salah satu kekeliruannya adalah penggunaan pendapatan rumah sakit untuk pembangunan. Itu sebetulnya tidak dianjurkan kecuali kita yakin sekali bahwa duitnya berlebihan, baru dibolehkan. Itu salah satu penyebabnya,” kata dia.
Meski dibebani utang besar, Suyuti memastikan operasional rumah sakit tetap berjalan normal. Namun, ia mengakui bahwa tidak semua jenis obat dapat dipenuhi, karena pihaknya kini memprioritaskan obat-obat penyelamat nyawa dan obat esensial.
“Gak ada masalah sampai saat ini, sampai saat ini berjalan dengan bagus. Memang tidak semua obat kita penuhi karena kami cenderung pertama kami bicara prioritas. Karena obat sefleting untuk menyelamatkan nyawa harus ada, kedua obat esensial harus ada,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk obat yang dinilai tidak berdampak langsung terhadap keselamatan pasien, pihaknya terpaksa menunda pengadaannya.
“kalau obat yang lain-lain terpaksa kita tunda dulu, kan tidak membahayakan juga kalau ga ada. Obat yang ditunda seperti vitamin-vitamin yaudahlah tertunda kan tidak berdampak langsung. Tapi sebagian juga ada tidak semuanya ada,” pungkasnya.
(Syauqi)












