BIMA – Kepala Desa Parado Rato, M. Saleh, angkat bicara soal tudingan ancaman terhadap wartawan dan aktivis LSM yang belakangan jadi sorotan publik. Dalam klarifikasinya pada Minggu, 15 Juni 2025, ia menyebut peristiwa yang terjadi bukan tindakan kekerasan, melainkan bentuk spontanitas karena merasa privasinya dilanggar secara ekstrem.
“Jurnalis dan aktivis itu mitra kami, mereka corong rakyat. Tidak ada masalah selama ini. Tapi kejadian kemarin beda. Itu sudah melewati batas,” tegasnya saat dikonfirmasi Berita Sampit.
Menurut Saleh, insiden itu terjadi Rabu, 11 Juni 2025 sekitar pukul 16.00 WITA, saat ia tengah tidur siang bersama istrinya. Ia dikagetkan oleh suara keras yang menghantam dinding rumah tepat di kamar tidurnya, disertai teriakan memanggil “Ompu…Ompu…” dan suara kursi dibanting.
“Istri saya langsung bangunkan saya sambil panik. Kami baru tidur sekitar 15 menit. Saya keluar dalam keadaan panik hanya mengenakan sarung, karena istri saya pun belum berpakaian lengkap,” jelas Saleh.
Yang membuatnya geram, lanjutnya, adalah karena tamu tersebut langsung menuju kamar tidur tanpa salam atau izin. “Etikanya mana? Itu sudah bukan lagi wartawan atau aktivis, tapi aksi premanisme. Saya malah menduga mereka sengaja mengintip karena posisi pintu kamar memang terbuka,” ucapnya dengan nada tinggi.
Karena merasa marah dan terancam, ia sempat memegang leher baju tamu tersebut. Ia menggangap tamu tersebut datang secara tidak etis.
“Selama ini, hubungan Kami dengan media sangat baik dan harmonis, karena setiap yang datang mengedepankan etika jurnalistik. Saya rasa siapapun yang ada di posisi saya pasti akan marah, karena yang diketuk kamar tidur,” kesalnya.
Saleh menambahkan, kejadian itu berdampak besar pada istrinya yang langsung drop dan dipasang infus oleh perawat, “Karena dugaan istri saya jangan-jangan oknum tersebut melihat kami yang lagi tidur,” pungkasnya.
(Nain)












