Oleh: Adista Pattisahusiwa
Di alun-alun Teheran, di tengah kerumunan yang menggenggam kemarahan revolusi, teriakan “Death to America” menggema seperti mantra.
Tapi ini bukan sekadar nyanyian massa yang membakar adrenalin, tapi merupakan denyut nadi kebijakan luar negeri Iran, sebuah manifesto berdarah yang telah mengukir luka di hati Amerika Serikat selama lebih dari empat dekade.
Dari sandera kedutaan hingga drone yang merobek langit Yordania, Iran telah menjadikan anti Amerikanisme sebagai seni perang asimetris, menari di ambang kekacauan tanpa pernah terjun ke perang terbuka.
Kisah dramatis tentang dendam, strategi, dan ambisi regional yang telah mengubah pasir Timur Tengah menjadi kanvas tragedi global.
Awal Mula, Revolusi 1979
Semuanya bermula pada 4 November 1979, ketika sekelompok mahasiswa Iran yang terinspirasi oleh semangat Revolusi Islam menyerbu Kedutaan Besar AS di Tehran.
Mereka menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari, menjadikan krisis ini sebagai simbol perlawanan terhadap “Setan Besar”, sebutan Ayatollah Khomeini untuk AS kala itu.
Dunia terhenyak, karena ini bukan sekadar pelanggaran diplomatik, melainkan deklarasi perang ideologis terhadap hegemoni Barat.
Menurut catatan sejarah Iran dan United States relations, krisis sandera ini memutus hubungan diplomatik AS-Iran hingga hari ini, menandai awal permusuhan yang tak pernah reda.
“Death to America” lahir di sini, bukan sebagai slogan kosong, tetapi sebagai pilar ideologi Republik Islam. Revolusi 1979 menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu AS, dan menggantikannya dengan teokrasi yang memandang Amerika sebagai musuh abadi.
Bagi Iran, AS bukan hanya kekuatan asing, tapi lambang imperialisme yang harus dilawan. Dari sinilah Tehran mulai merancang kebijakan luar negeri yang berpusat pada konfrontasi, bukan dengan tank dan jet tempur, tetapi melalui serangan bayangan, proxy teroris, dan permainan catur geopolitik yang licik.
Serangan Proxy dan Darah di Lebanon
Empat tahun kemudian, pada 1983, dunia menyaksikan babak baru dari kebijakan ini. Dua ledakan dahsyat mengguncang Beirut, satu menghancurkan Kedutaan AS, membunuh 17 warga Amerika, dan satu lagi merobek barak pasukan multinasional, menewaskan 241 prajurit AS.
Pelakunya? Hezbollah, kelompok militan Syiah yang menjadi tangan kanan Iran di Lebanon. Declassified intelligence, seperti yang diungkap dalam Echoes of 1983 Beirut Bombings, menunjukkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatur serangan ini.
Tehran tidak hanya mendanai dan melatih Hezbollah; mereka memberikan perintah. Ini adalah cetak biru strategi Iran, serang tanpa jejak, biarkan proxy menanggung noda darah.
Pola ini berulang pada 1996 di Khobar Towers, Arab Saudi. Sebuah truk bom, yang dikaitkan dengan Hezbollah Saudi yang didukung Iran, menewaskan 19 anggota Angkatan Udara AS.
Pengadilan AS pada 2006 memerintahkan Iran membayar ganti rugi, dengan bukti keterlibatan IRGC Khobar Towers bombing. Iran menyangkal, tetapi jejaknya jelas.
Ini bukan sekadar serangan sporadis, tapi bagian dari kampanye sistematis untuk melemahkan kehadiran AS di Timur Tengah.
Perang Bayangan di Irak dan Afghanistan
Masuk abad ke-21, Iran memperluas teater perang bayangannya. Di Afghanistan (2001-2021), meskipun secara ideologis bertentangan dengan Taliban dan al Qaeda yang Sunni, Iran memainkan permainan ganda.
Laporan dari Iran's Ambiguous Role in Afghanistan mengungkapkan bahwa Tehran memberikan senjata, pelatihan, dan tempat perlindungan kepada faksi-faksi tertentu, semata-mata untuk mengganggu misi AS. Ini adalah pragmatisme dingin, musuh dari musuhku adalah sekutuku, meski sementara.
Di Irak, antara 2003-2011, Iran meningkatkan taruhannya. Milisi Syiah seperti Kataib Hezbollah, yang didanai dan dipersenjatai oleh IRGC, bertanggung jawab atas kematian 603 prajurit AS, sebagian besar melalui bom pinggir jalan (EFPs) yang dirancang Iran Remaking Iraq.
Setiap ledakan adalah pengingat bahwa Iran tidak perlu tentara reguler untuk menyakiti AS, cukup dengan proxy yang setia dan senjata yang mematikan.
Puncak Dendam, Soleimani dan Serangan 2020
Pada Januari 2020, dunia menyaksikan eskalasi dramatis. AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani, arsitek utama jaringan proxy Iran, dalam serangan drone di Baghdad.
Iran membalas dengan keberanian yang mengejutkan, meluncurkan misil balistik ke pangkalan Al-Asad dan Erbil di Irak, menargetkan pasukan AS Operation Martyr Soleimani.
Meski tidak ada korban jiwa, serangan ini menunjukkan bahwa Iran berani bertindak langsung, bukan hanya melalui bayangan. Ini adalah pernyataan: “Kami tidak takut.”
2023-2024, Gelombang Baru Teror
Gelombang teror proxy Iran berlanjut. Sejak Oktober 2023, kelompok seperti Islamic Resistance in Iraq, yang berada di bawah payung IRGC, melancarkan lebih dari 150 serangan terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah U.S. Forces Attacked 151 Times.
Puncaknya terjadi pada 28 Januari 2024, ketika serangan drone di pangkalan Tower 22 di Yordania menewaskan tiga prajurit AS dan melukai 34 lainnya Tower 22 drone attack.
Iran menyangkal keterlibatan langsung, tetapi AS dengan tegas menuding proxy Iran. Ini adalah babak terbaru dari perang bayangan yang tak pernah usai.
Drama di Balik Kebencian
Apa yang membuat kisah ini begitu dramatis? Iran bukan musuh konvensional.
Mereka adalah dalang yang menulis skenario kekacauan dengan tinta darah, menghindari perang total yang bisa menghancurkan mereka.
“Death to America” adalah sumpah yang ditepati melalui serangan-serangan yang dirancang dengan presisi dari bom di Beirut hingga drone di Yordania.
Setiap aksi adalah pengingat bahwa Iran tidak melupakan luka masa lalu, dukungan AS untuk Shah, sanksi ekonomi yang mencekik, dan pembunuhan Soleimani.
Namun, di balik drama ini, ada ironi yang pahit. Kebijakan anti-AS Iran juga merupakan teater politik domestik. Rezim menggunakan narasi “musuh eksternal” untuk meredam ketidakpuasan rakyat atas krisis ekonomi, pengangguran, dan represi politik.
Menurut Foreign relations of Iran, kebijakan luar negeri Iran sering bercabang antara idealisme revolusioner dan pragmatisme ekonomi. Serangan proxy adalah cara untuk mempertahankan legitimasi revolusi sambil menghindari konflik yang merusak.
Mengapa Ini Penting?
Kisah “Death to America” bukan sekadar konflik bilateral, tapi epik geopolitik yang mengguncang stabilitas Timur Tengah. Iran telah menciptakan jaringan proxy, dari Hezbollah di Lebanon hingga Houthi di Yaman yang berfungsi sebagai lengan panjang IRGC.
Jaringan ini, seperti dijelaskan dalam US-Iran Relations, memungkinkan Iran untuk memproyeksikan kekuatan tanpa risiko perang langsung. Namun, setiap serangan meningkatkan taruhan, membawa dunia lebih dekat ke ambang konflik yang lebih besar.
Bayangkan pasir Timur Tengah sebagai kanvas, setiap ledakan, setiap kematian, adalah goresan kuas dalam lukisan dendam Iran.
Dari Beirut hingga Baghdad, dari Kabul hingga Yordania, Iran telah menjadikan “Death to America” lebih dari sekadar slogan, melainkan strategi yang telah merenggut ribuan nyawa dan mengubah dinamika global.
Terbaru saat ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyampaikan pidato di Gedung Putih sesaat setelah mengonfirmasi serangan terhadap tiga situs nuklir Iran.
Washington telah ikut campur dalam perang Iran-Israel yang dimulai lebih dari sepekan lalu.
Trump mengatakan serangan mendatang terhadap Iran akan jauh lebih besar jika tidak ada perdamaian yang disepakati.
“Tujuan kami adalah penghancuran kapasitas pengayaan nuklir Iran dan penghentian ancaman nuklir yang ditimbulkan oleh negara sponsor teror nomor satu di dunia,” kata Trump dalam pidatonya.
Pertanyaan yang menggantung adalah, sampai kapan dunia akan menonton drama berdarah ini berlanjut? Dan ketika tirai akhirnya jatuh, apakah itu akan berakhir dengan perdamaian atau kehancuran? (***)
Penulis Adalah Wartawan Dest Politik Parlemen Senayan












