Wagub Kalteng: Indonesia Emas 2045 Hanya Bisa Dicapai dengan Pemuda yang Visioner dan Kolaboratif

IST/BERITASAMPIT - Wakil Gubernur Kalteng H. Edy Pratowo saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Badko HMI Kalteng di Swiss-Belhotel Danum , Selasa pagi, 24 Juni 2025.

– Wakil Gubernur (Kalteng), H. Edy Pratowo, menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kesiapan dan kontribusi nyata generasi muda.

Hal ini disampaikannya saat membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kalteng, bertempat di Ballroom Swiss-Belhotel Danum , Selasa pagi, 23 Juni 2025.

FGD ini mengangkat tema “HMI Sebagai Pelopor Transformasi Ekonomi Pemuda: Inovasi, Kolaborasi dan Keamanan Menuju Indonesia Emas 2045”.

Dalam sambutan yang dibacakannya mewakili Gubernur Kalteng, Edy Pratowo memberikan apresiasi atas kepedulian HMI terhadap isu-isu strategis, khususnya yang menyangkut masa depan bangsa dan peran pemuda dalam pembangunan ekonomi daerah.

“Indonesia Emas 2045 ini bukan sekadar slogan atau angan-angan, tetapi merupakan cita-cita besar yang hanya dapat diraih dengan kerja keras, kolaborasi yang kuat, dan visi yang jelas dari seluruh elemen bangsa. Kuncinya adalah pemuda—generasi yang saat ini sedang ditempa, dibina, dan dibimbing,” ujar Edy.

Dalam konteks Kalteng, lanjut Edy, potensi pembangunan daerah sangat besar. Provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, serta sumber daya manusia yang terus bertumbuh.

Namun, potensi tersebut harus didorong dan dikelola oleh anak-anak muda yang memiliki semangat juang, inovasi, dan integritas tinggi.

“Saya menaruh harapan besar kepada generasi muda, khususnya kader HMI, untuk menjadi agen transformasi ekonomi yang tidak hanya berpikir tentang kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi berpikir dan bertindak untuk kemajuan masyarakat luas,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi dan nilai-nilai kearifan lokal dalam pembangunan.

Menurutnya, filosofi Huma Betang dan semangat Belom Bahadat merupakan fondasi budaya yang dapat dijadikan landasan dalam membangun ekonomi inklusif dan berkelanjutan.

baca juga ...  Mahasiswa Teriakkan Ketidakadilan, Beasiswa TABE Dipangkas 50 Persen oleh Kampus di Sampit

“Nilai-nilai lokal itu harus hidup dalam praktik, bukan hanya dalam wacana. Kita butuh kolaborasi yang menyatukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, terutama pemuda, dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks,” katanya.

Selain itu, Wakil Gubernur juga mengingatkan bahwa era disrupsi dan digitalisasi membutuhkan pemuda yang adaptif dan memiliki daya saing tinggi.

Dalam konteks inilah, peran organisasi mahasiswa seperti HMI menjadi krusial, yakni sebagai wadah kaderisasi intelektual yang memiliki keberpihakan terhadap kepentingan publik.

harus bisa menjadi contoh bagaimana transformasi ekonomi bisa dipimpin oleh pemuda. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan , tapi menjadi aktor utama yang memimpin perubahan,” pungkasnya.

(Sya'ban)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!