Iran di Luar Liga Arab, Identitas Persia Dalam Pusaran Timur Tengah

Iran, Sang Serigala Tunggal di Timur Tengah.

Oleh: Adista Pattisahusiwa

Iran tidak tergabung dalam anggota Liga Arab, bukan sekadar soal perbedaan etnis atau bahasa, tapi cerminan mendalam dari identitas historis, visi geopolitik, dan dinamika kompleks yang menempatkan Tehran sebagai aktor unik di Timur Tengah.

Di tengah eskalasi konflik 2025, dari konflik Iran -Israel 12 hari, serangan rudal Iran ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar hingga melemahnya sekutu seperti Hizbullah.

Status Iran sebagai “orang luar” di antara negara-negara Arab menjadi lensa menarik untuk memahami peran, tantangan, dan peluangnya di kawasan yang sedang bergolak.

Mengapa Iran tidak bergabung dengan Liga Arab? Bagaimana posisi ini memengaruhi strateginya di tengah krisis regional? Dan apa implikasinya untuk masa depan Timur Tengah?

Akar Identitas, Persia, Bukan Arab

Untuk memahami mengapa Iran tidak menjadi bagian dari Liga Arab, kita harus menyelami akar identitasnya. Iran bukan negara Arab, melainkan pewaris peradaban Persia yang telah berdiri ribuan tahun, dari Kekaisaran Achaemenid (550–330 SM) hingga dinasti Safavid yang menegaskan identitas Syiah pada abad ke-16.

Mayoritas penduduk Iran adalah etnis Persia (sekitar 60-65%), dengan bahasa resmi Farsi, berbeda jauh dari bahasa Arab yang menjadi perekat budaya Liga Arab. Meski ada minoritas Arab di provinsi seperti Khuzestan, mereka hanya sekitar 2-3% dari populasi, terlalu kecil untuk mendefinisikan identitas .

Identitas Persia adalah narasi kebanggaan . Iran melihat dirinya sebagai pusat peradaban kuno yang pernah menyaingi Roma dan Byzantium, dengan warisan budaya seperti puisi Hafez, arsitektur Persepolis, dan tradisi intelektual yang mendahului era modern.

Dalam banyak unggahan di X, warga Iran sering menyebut diri mereka sebagai “Arya” (istilah historis untuk bangsa Persia), menegaskan perbedaan dengan tetangga Arabnya. Narasi ini kadang memicu gesekan, dengan beberapa netizen Arab menuduh Iran bersikap “arogan” atas klaim superioritas budaya ini.

Selain etnis dan bahasa, faktor agama memperlebar jurang. Iran adalah benteng Islam Syiah, dengan sekitar 90-95% penduduknya menganut mazhab ini, sementara mayoritas negara Liga Arab (kecuali Irak dan Bahrain) didominasi Sunni.

Rivalitas Sunni-Syiah, meski tidak selalu menjadi pemicu utama konflik, sering dimanfaatkan untuk memperuncing polarisasi. Misalnya, dalam perang Yaman, Saudi (Sunni) dan Iran (Syiah) mendukung faksi berlawanan, memperdalam ketegangan.

baca juga ...  MKGR Tegaskan Dukung Program Kerja Ketum Golkar Hingga Prabowo Subianto

Revolusi Islam Iran 1979, yang menyerukan ekspor ideologi Syiah, juga membuat banyak monarki Arab, anggota Liga Arab merasa terancam, memperkuat alasan untuk menjaga jarak dari Tehran.

Liga Arab: Klub yang Tidak Cocok dengan Ambisi Iran

Liga Arab, didirikan pada 1945, bertujuan mempersatukan negara-negara berbahasa Arab untuk memperjuangkan kepentingan bersama, dari kemerdekaan Palestina hingga kerja sama ekonomi.

Iran, dengan identitas non-Arab dan visi geopolitik yang berbeda, tidak punya tempat alami dalam organisasi ini. Tapi, ini bukan sekadar soal identitas, ada alasan strategis mengapa Iran dan Liga Arab saling menjaga jarak.

Pertama, rivalitas historis, Perang Iran-Irak (1980-1988) adalah titik nadir hubungan Iran dengan dunia Arab. Sebagian besar negara Liga Arab, termasuk Saudi, Kuwait, dan Yordania, mendukung Irak di bawah Saddam Hussein, baik dengan dana maupun logistik, karena khawatir dengan ambisi revolusioner Iran pasca-1979.

Meski Irak kini lebih dekat ke Iran, trauma perang itu masih membekas, baik di Tehran maupun di ibu kota Arab lainnya.

Kedua, persaingan hegemoni regional, Iran dan Arab Saudi, anggota kunci Liga Arab, bersaing untuk mendominasi Timur Tengah. Iran membangun “Axis of Resistance” (Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, milisi Syiah di Irak, dan hingga 2024, rezim Assad di Suriah) untuk menantang pengaruh Saudi dan sekutu Teluknya.

Sebaliknya, Saudi memimpin koalisi Sunni yang didukung AS, termasuk melalui normalisasi dengan Israel via Abraham Accords. Liga Arab, yang sering mencerminkan konsensus Teluk, dianggap Iran sebagai alat untuk membendung ambisinya, bukan platform kerja sama.

Ketiga, perpecahan dalam Liga Arab

Liga Arab sendiri bukan monolit. Negara seperti Qatar dan Oman punya hubungan relatif baik dengan Iran, sementara Mesir dan UEA lebih kritis. Ketidakkompakan ini membuat Iran skeptis terhadap nilai strategis Liga Arab.

Misalnya, ketika Liga Arab gagal menyepakati sikap tegas soal normalisasi dengan Israel, Iran justru memanfaatkan isu Palestina untuk memperkuat narasi anti-Israelnya, tanpa perlu bergabung dengan organisasi tersebut.

Iran di 2025, “Pemain Luar” yang Tetap Berpengaruh

Status Iran di luar Liga Arab memberi kebebasan sekaligus isolasi. Di tengah krisis 2025, posisi ini memengaruhi cara Tehran menavigasi tantangan regional, dari serangan rudal ke pangkalan AS di Qatar hingga tekanan militer Israel terhadap sekutunya.

baca juga ...  Bank Kalteng Cabang Pangkalan Bun Semakin Melekat di Hati Masyarakat Kotawaringin Barat

Kebebasan Strategis

Tanpa ikatan Liga Arab, Iran bisa bergerak lincah di luar kerangka Arab. Serangan rudal ke Al Udeid pada 23 Juni 2025, sebagai balasan atas serangan AS ke fasilitas nuklirnya, menunjukkan keberanian Iran meski dalam posisi terjepit.

Tehran juga memperdalam aliansi dengan aktor non-Arab, Rusia membantu di Suriah, Tiongkok berinvestasi di sektor energi Iran, dan Turki berbagi kepentingan dalam mencegah kekosongan kekuasaan di Suriah pasca-Assad.

Kebebasan ini memungkinkan Iran tetap relevan meski dikucilkan oleh banyak negara Teluk.

Isolasi dan Tantangan

Namun, status “orang luar” juga punya harga. Serangan ke Qatar memicu kecaman dari Doha, yang menegaskan pelanggaran kedaulatan wilayah udaranya. Bahkan negara Teluk yang netral, seperti Kuwait, mengecam Iran, menunjukkan betapa sulitnya Tehran membangun solidaritas regional.

Melemahnya sekutu seperti Hizbullah (terpukul oleh serangan Israel) dan hilangnya Assad di Suriah juga memperkecil ruang gerak Iran.

Di medsos X, sentimen bercampur, ada yang memuji Iran sebagai “satu-satunya yang berani lawan AS,” tapi ada pula yang menyebut Tehran “terlalu agresif dan terisolasi.”

Nuklir sebagai Jalan Bertahan

Krisis nuklir Iran menjadi sorotan utama. Setelah serangan AS ke fasilitasnya, beberapa analis di X berspekulasi Iran mungkin mempercepat program nuklirnya sebagai “jaminan eksistensi.”

Ini memperumit hubungan dengan Liga Arab, terutama Saudi, yang khawatir dengan potensi Iran bersenjata nuklir. Namun, tekanan ini juga membuka peluang diplomasi, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kesiapan untuk dialog nuklir, sinyal bahwa Iran mungkin mencari jalan keluar dari isolasi.

Jembatan atau Jurang?

Status Iran di luar Liga Arab mencerminkan dilema besar Timur Tengah, bagaimana menyatukan kawasan yang terpecah oleh identitas, agama, dan ambisi? Di satu sisi, posisi Iran memungkinkannya menantang status quo, seperti hegemoni AS-Israel atau dominasi Saudi.

Di sisi lain, tanpa kerja sama dengan negara-negara Arab, Iran sulit mencapai stabilitas jangka panjang.

Tantangan ke Depan

Rivalitas dengan Saudi dan ketegangan dengan Israel tetap jadi hambatan utama. Normalisasi hubungan Arab-Israel melalui Abraham Accords, yang kini melibatkan lebih banyak anggota Liga Arab, memperkuat aliansi anti-Iran.

baca juga ...  Istana Sebut Wakil Panglima Tak Picu Dualisme Kepemimpinan di Tubuh TNI

Krisis kemanusiaan di Gaza dan Suriah juga memperumit narasi Iran sebagai “pembela kaum tertindas,” terutama ketika Liga Arab mulai menyerukan solusi pragmatis seperti rekonstruksi.

Peluang Diplomasi

Meski sulit, ada celah untuk meredakan ketegangan. Qatar dan Oman, anggota Liga Arab yang menjaga hubungan baik dengan Iran, bisa menjadi mediator. Isu bersama, seperti stabilitas pasar minyak (vital bagi Iran dan Teluk) atau rekonstruksi Suriah, mungkin mendorong dialog.

Ekonomi juga bisa jadi perekat, meski Iran terhantam sanksi dan inflasi 29%, investasi Tiongkok dan potensi kerja sama energi dengan Teluk menawarkan harapan. Seperti kata pepatah Persia, “Dalam badai, bahkan musuh bisa jadi sekutu.”

Masa Depan yang Tidak Pasti

Timur Tengah 2025 adalah arena di mana Iran, sebagai “pemain luar,” tetap jadi pusat perhatian. Apakah Tehran akan terus menempuh jalur konfrontasi, seperti serangan rudal ke pangkalan AS, atau beralih ke diplomasi untuk keluar dari tekanan?

Jawabannya bergantung pada kemauan Iran dan Liga Arab untuk melihat satu sama lain bukan sebagai ancaman, tapi sebagai tetangga yang terpaksa hidup berdampingan.

Kesimpulan: Iran, Sang Serigala Tunggal

Iran di luar Liga Arab adalah kisah tentang identitas yang kokoh, ambisi yang tak kenal lelah, dan tantangan yang tak pernah usai.

Sebagai bangsa Persia yang bangga, Iran tidak butuh Liga Arab untuk menegaskan eksistensinya. Namun, di tengah krisis 2025 dari nuklir hingga konflik regional

Maka Tehran harus memilih, tetap jadi serigala tunggal yang ditakuti, atau mulai membangun jembatan dengan tetangga Arabnya untuk mencegah Timur Tengah jatuh ke jurang perang yang lebih dalam.

Saya percaya, meski identitas Persia dan visi geopolitik Iran membuatnya sulit bergabung dengan Liga Arab, ada ruang untuk kerja sama pragmatis.

Seperti yang diungkapkan di X, “Musuh yang sama tak selalu bikin kita berteman, tapi saling menghormati bisa bikin kita hidup damai.”

Mungkin, di tengah badai ini, Iran dan Liga Arab perlu belajar “hidup damai” sebelum kawasan ini terkubur dalam konflik yang tak berkesudahan. (***)

Penulis adalah Jurnalis Indonesia

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!