PULANG PISAU – Harapan keluarga untuk menemukan Nurohim (29) dalam keadaan selamat pupus sudah. Warga Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya itu ditemukan tak bernyawa setelah dinyatakan hilang selama tiga hari di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan.
Jasad Nurohim ditemukan oleh warga pada Senin siang, 7 Juli 2025, sekitar pukul 12.30 WIB di kawasan Sei Barania, tidak jauh dari lokasi terakhir perahunya ditemukan. Sebelumnya, pria yang sehari-hari dikenal sebagai pencari ikan itu sempat dilaporkan hilang pada Sabtu 5 Juli lalu, setelah tidak kembali dari aktivitasnya menjala udang.
Kepala Desa Pilang, Rusli, membenarkan penemuan tersebut. Ia mengatakan jasad korban ditemukan dalam kondisi telah membengkak, menguatkan dugaan bahwa korban tenggelam dan meninggal beberapa hari sebelumnya. “Korban ditemukan masyarakat dalam keadaan meninggal dunia, dan sekarang sudah ditangani pihak medis Puskesmas Jabiren,” ujarnya.
Kronologi bermula ketika Nurohim pamit kepada keluarga pada Sabtu sore sekitar pukul 16.00 WIB untuk pergi mencari ikan di Sungai Kahayan. Biasanya ia kembali ke rumah keesokan paginya pukul 06.00 WIB. Namun kali ini, ia tak kunjung pulang hingga membuat keluarga panik dan melapor ke pihak desa.
Pencarian pun dilakukan sejak Minggu pagi oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Pulang Pisau, Basarnas Palangka Raya, Polsek Jabiren Raya, perangkat desa, Tagana, dan warga setempat. Sekitar pukul 08.00 WIB, perahu milik korban ditemukan dalam kondisi kosong, tersangkut di rakit dekat tongkang di area tambang pasir Desa Pilang.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Pulang Pisau, Herman Wibowo, menjelaskan bahwa upaya pencarian melibatkan 20 personel dan sejumlah armada seperti kelotok, speed boat, dan perahu dulpin. Mereka menyisir sepanjang aliran sungai dan terus mengumpulkan informasi dari warga sekitar. “Kami sudah berupaya maksimal, dan turut berduka atas musibah ini,” katanya.
Nurohim dikenal sebagai sosok pekerja keras dan penyabar. Ia sering menghabiskan malam di atas sungai demi menafkahi keluarganya. Kepergiannya yang mendadak menjadi duka mendalam bagi masyarakat Desa Pilang.
Pihak keluarga menerima kabar duka itu dengan ikhlas. Setelah pemeriksaan medis selesai, jenazah langsung dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan di pemakaman umum desa setempat. Tragedi ini menjadi pengingat betapa rentannya keselamatan para nelayan tradisional yang bergantung hidup pada derasnya arus sungai. (ds)












