Penulis: Maman Wiharja (Wartawan Senior di Kalteng)
Seorang teman lama dari Cirebon Jawa Barat (Jabar), Djodjo Sutardjo Suparjo yang juga wartawan senior, Senin 13 Oktober 2025, mengungkapkan kepada penulis betapa teriris hati dirinya, ketika Gubernur Banten menonaktifkan kepala sekolah salah satu SMAN di Kabupaten Lebak, hanya gegara ‘menampar' seorang murid yang kedapatan merokok di salah satu sudut sekolah.
Djodjo yang juga sempat menduduki jabatan sebagai Ketua PGRI Kota Cirebon, Dosen dan Wakil Rektor di salah satu Universitas di Cirebon, serta pendiri salah satu komunitas anak anak muda Cirebon mengatakan, ini contoh arogansi dan kedangkalan cara berpikir pimpinan daerah dalam membuat keputusan tanpa cek and ricek, tabayun mencari akar masalah apa sebenarnya yang sesungguhnya terjadi di sekolah.
Menurutnya, seseorang harus paham bagaimana susah payahnya mendidik anak-anak bangsa yang beradab dan berbudi pekerti yang luhur.
“Sahabat-sahabat guru di seluruh Indonesia, marilah kita lawan pemimpin daerah yang tidak mendahulukan Tabayun ketimbang mengambil keputusan bak pahlawan bagi seorang siswa SMAN yang telah tersesat jalan pikirannya, karena terbius musim demo, sehingga memperlakukan guru dengan semena mana. Hanya satu kata, Lawan!,”
“Aku benar benar benar miris. Sekolah yang seharusnya jadi benteng moral paling awal, kini telah dijadikan ruang anarkisme. Para siswa SMAN Lebak, berdemo dengan cara mogok belajar hanya karena solidaritas semu. Dan celakanya para orang tua percaya benar, kalau aksi yang dilakukan siswa itu benar. Tidak pernah sedikitpun berpikir mengapa kasus demo itu terjadi,” tegas Djodjo Supardjo.
“Gila banget!, aetelah Kepsek SMAN Lebak dinonaktifkan oleh Gubernur Banten, mereka para siswa kegirangan karena merasa menang,” tambahnya.
“Kita bertanya, inikah tanda keberhasilan pendidikan nasional?”. Menurut Jojo Sutarjo, saat ini konsep pendidikan merdeka yang tidak barbasis budaya Indonesia lah yang salah. Mereka merdeka hanya untuk mendapatkan hak-haknya, tanpa perduli dengan kewajiban yang harus dipatuhi.
Saat ini cenderung kewenangan pendidik sudah bertahun-tahun terbelenggu. Misalnya, Guru yang kerap memberikan hukuman sudah tidak ada lagi di sokolah. Bahkan nampaknya Guru sudah tidak berani lagi menegur siswa. Akibatnya, terjadilah pergeseran moral budi pekerti yang hilang, lantaran tergerus oleh arogansinya sang Gubernur.
Begitu pun guru akhirnya hanya melaksanakan separoh tugasnya, yakni hanya mengajar, tanpa mendidik. Jadi wajar jika saat ini banyak siswa yang ikut-ikutan arogan, sok tahu, orangtua kurang dihormati guru tak ditakuti.
“Janganlah kita (Indonesia) bermimpi sampai ke Dunia emas tahun 2045. Sulit rasanya akan menemukan generasi yang siap secara nasional untuk bisa memimpin negeri ini,”
“Jangan salahkan pula KDM (Kang Dedi Mulyadi), Gubernur Jabar membuat gebragan baru yakni program sekolah Militer. Karena penegakan disiplin dini hanya ada di militer. Bukan militerisme,”
Dikatakan Djojo, satu-satunya wadah guru untuk menyalurkan aspirasinya hanya tinggal PGRI.
Namun, pada Rabu 15 Oktober 2025. Gubernur Banten Andra Soni kembali mengaktifkan Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Dini Pitria.
Dini Pitria bisa kembali bekerja dan seluruh kewenangan, hak dan kewajibannya telah dipulihkan. Pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banten juga dihentikan.
Pengamatan penulis, semoga arogansi Gubernur Banten jangan menular kepada Gubernur lainnya di Indonesia.(*)












