SAMPIT – Polemik rencana pelaksanaan Road Race di kawasan Taman Kota Sampit, Jalan Yos Sudarso, kembali memanas. Di tengah maraknya penolakan dari berbagai pihak, muncul kembali surat resmi Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) tahun 2024 yang secara tegas melarang kegiatan keramaian di ruas jalan tersebut.
Surat bernomor 500/304/SETDA.EK/V/2024 tertanggal 31 Mei 2024 dan ditandatangani langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor, menyebut bahwa penggunaan Jalan Yos Sudarso, khususnya di depan Klinik Terapung Obor, tidak diperkenankan untuk kegiatan berskala besar karena berpotensi mengganggu pelayanan kesehatan.
Larangan tersebut kini kembali menjadi dasar penolakan sejumlah pihak terhadap rencana road race yang dijadwalkan digelar 13–14 Desember 2025 mendatang. Salah satunya datang dari Gereja Katolik Paroki St. Joan Don Bosco Sampit yang menegaskan bahwa pelaksanaan balapan motor di kawasan padat aktivitas publik tersebut tidak tepat.
Dalam isi surat yang ditujukan kepada seluruh kepala OPD, instansi vertikal, dan BUMN tersebut, pemerintah daerah menegaskan beberapa poin penting.
“Pertama, kegiatan keramaian berskala besar dilarang menggunakan Jalan Yos Sudarso (depan Klinik Terapung) karena dapat mengganggu aktivitas pelayanan kesehatan di lokasi tersebut,” kata surat tersebut.
Kedua, kegiatan yang bersifat kecil atau terbatas masih dimungkinkan, dengan catatan tidak menutup akses keluar-masuk Klinik Terapung, tidak menggunakan sound system dengan volume tinggi hingga larut malam, serta membatasi waktu pelaksanaan kegiatan.
Ketiga, untuk kegiatan keramaian skala besar, pemerintah daerah menyarankan agar menggunakan lokasi alternatif, yakni Jalan D.I. Panjaitan tepatnya di depan PT Inhutani I Sampit.
Surat tersebut juga ditembuskan kepada Kapolres Kotim, Dandim 1015 Sampit, Kepala Kejaksaan Negeri Sampit, serta Ketua Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Joan Don Bosco Sampit.
Sebelumnya Anggota DPRD Kotim Hendra Sia tidak setuju dengan rencana pelaksanaan event balap motor di kawasan Taman Kota Sampit yang dijadwalkan pada 13–14 Desember 2025 mendatang.
Menurutnya, lokasi taman kota sangat tidak ideal untuk kegiatan balap karena berada di kawasan yang padat aktivitas publik.
“Ada Klinik Terapung Obor yang beroperasi, dekat dengan gereja, ada sekolah, bahkan taman kanak-kanak. Selain itu, halaman belakang sekolah menjadi akses keluar-masuk,” tegas Hendra Sia, Senin 10 November 2025.
Ia menilai pemerintah daerah perlu mencari lokasi yang lebih representatif agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
Senada dengan itu, Pengamat Kebijakan Publik, Ekonomi, dan Demokrasi Eka Sazli menilai bahwa event balap motor di taman kota sudah tidak relevan lagi.
“Sejak dulu taman kota dijadikan arena motor prix. Sudah saatnya kegiatan itu dipindahkan ke sirkuit yang dimiliki pemerintah daerah. Balapan motor di ruang publik, apalagi taman kota, tidak pantas lagi dilakukan,” ujarnya.
Eka juga menyoroti potensi gangguan terhadap aktivitas masyarakat. Taman kota sudah menjadi tempat warga berolahraga saat weekend dan car free day. Kalau ditutup, tentu masyarakat kecewa.
“Belum lagi gangguan bagi rumah sakit terapung dan umat Kristiani yang sedang beribadah di hari Minggu. Kita harus menjunjung tinggi toleransi dan kenyamanan bersama,” jelasnya.
Sementara itu, Kherli, pengurus Komite Pemantau Kebijakan (KPK), juga mendesak agar rencana tersebut dibatalkan.
“Taman kota tidak layak untuk balapan karena sudah ada sirkuit. Kalau mau menggelar even balap, pemkab sebaiknya menyelesaikan dulu sirkuit Sahati yang mangkrak bertahun-tahun. Itu dibangun dengan uang rakyat, bukan uang pribadi,” tegasnya.
Sementara itu Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kotim, Angga Aditya Nugraha, menegaskan bahwa event Road Race Sampit merupakan ajang penjaringan atlet menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) tahun 2026.
Menurut Angga, sejak April lalu sejumlah klub otomotif telah meminta agar event ini kembali digelar karena Kotim kini mengalami kekurangan atlet balap, terutama di bawah usia 18 tahun.
“Sebenarnya banyak club dan orang tua ingin anak-anaknya dilatih secara profesional agar bisa bersaing di level nasional bahkan internasional. Event ini jadi wadah positif untuk menyalurkan potensi mereka,” ujarnya, Senin 10 November 2025.
Ia menyampaikan bahwa IMI Kotim telah lebih dulu bersurat dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, gereja, serta pelaku usaha di sekitar lokasi kegiatan untuk memastikan tidak ada gangguan terhadap pelayanan kesehatan dan aktivitas ibadah.
“Kami bersurat dan melakukan koordinasi langsung dengan rumah sakit dan pihak gereja. Jalur ambulans juga tetap terbuka, jadi kegiatan pelayanan kesehatan tetap bisa berjalan normal,” tegasnya.
Angga menjelaskan, pelaksanaan event akan berlangsung selama dua hari dengan waktu yang diatur sesuai izin dari pemerintah daerah, serta mendapat rekomendasi dari berbagai instansi seperti Polres, Dinas Perhubungan, dan Dinas Bina Marga.
Selain untuk pembinaan atlet, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat. Jalan lintasan yang digunakan akan diperbaiki, pedagang sekitar diuntungkan, dan penjualan tiket turut menambah pemasukan daerah.
“Event ini ditunggu masyarakat, bahkan peserta dari luar daerah seperti Kalbar dan wilayah lain juga antusias. Ini jadi kebanggaan dan bagian dari pembinaan olahraga prestasi Kotim,” pungkasnya.
(Nardi)












