SAMPIT – Anggota Fraksi PAN DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Eddy Mashami, menyoroti kenaikan angka kemiskinan di daerah ini yang meningkat dari 5,66 persen menjadi 5,84 persen atau naik 0,17 persen poin. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa upaya penanggulangan kemiskinan perlu dipertajam dan dievaluasi secara menyeluruh.
Menurut Eddy, kenaikan tingkat kemiskinan menunjukkan bahwa strategi yang selama ini dijalankan harus lebih fokus dan terintegrasi. Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Kotim perlu mengoptimalkan pelaksanaan Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2022 tentang RPKD Tahun 2021–2026.
“Penanggulangan kemiskinan harus berpusat pada tiga pilar utama, yakni pengurangan beban pengeluaran masyarakat, peningkatan pendapatan dan produktivitas, serta penciptaan lingkungan pembangunan yang inklusif,” kata Eddy, Selasa 16 Desember 2025.
Pilar pertama, lanjutnya, adalah pengurangan beban pengeluaran masyarakat melalui perlindungan sosial. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga agar masyarakat miskin tidak semakin terpuruk. Optimalisasi bantuan sosial harus dibarengi dengan sinkronisasi data, terutama Data Terpadu Kesejahteraan Sosial dan data kemiskinan ekstrem berbasis musyawarah desa atau kelurahan.
Selain itu, penerima manfaat harus benar-benar mendapatkan bantuan seperti Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, hingga bantuan khusus seperti BLT, subsidi energi, dan bantuan iuran JKN.
Selain bantuan sosial, Eddy juga menekankan pentingnya perbaikan layanan dasar. Akses pendidikan dan layanan kesehatan gratis bagi keluarga miskin perlu ditingkatkan, disertai perbaikan sarana dasar seperti air bersih, sanitasi layak, serta perbaikan rumah tidak layak huni melalui berbagai program pemerintah.
Pilar kedua adalah peningkatan pendapatan dan produktivitas masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Menurut Eddy, langkah ini menjadi kunci jangka menengah dan panjang untuk memutus rantai kemiskinan.
Program pelatihan vokasi dan peningkatan keterampilan kerja harus disesuaikan dengan potensi daerah, seperti sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, maupun industri hilir. Program padat karya yang melibatkan masyarakat miskin lokal juga perlu diperluas.
Penguatan usaha mikro dan kecil turut menjadi perhatian. Eddy mendorong penyediaan akses permodalan, bantuan peralatan produktif, serta pendampingan kewirausahaan, termasuk peningkatan akses pasar dan digitalisasi promosi produk lokal. Selain itu, akses terhadap lahan dan sumber daya produktif seperti bibit, benih, dan sarana produksi juga harus difasilitasi secara adil.
Pilar ketiga, lanjut Eddy, berkaitan dengan penciptaan lingkungan pembangunan yang inklusif melalui kebijakan dan kelembagaan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah tingginya mobilitas penduduk dari luar daerah yang mencari pekerjaan dengan penghasilan di bawah standar, sehingga berdampak pada peningkatan angka kemiskinan.
Karena itu, diperlukan kebijakan yang menyeimbangkan peluang kerja, mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal, serta mendorong investasi padat karya dengan upah sesuai standar.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat peran dan koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan hingga tingkat desa. Program lintas sektor harus dikonvergensikan agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan, serta perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk mengukur dampak nyata terhadap penurunan angka kemiskinan.
“Langkah mendesak yang harus dilakukan adalah validasi dan sinkronisasi data kemiskinan. Data dari Disdukcapil, DTKS, dan data lapangan harus disatukan agar bantuan dan program pemberdayaan tepat sasaran,” tegas Eddy.
Ia menambahkan, fokus penghapusan kemiskinan ekstrem harus menjadi prioritas melalui konvergensi program yang mengurangi beban pengeluaran sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Pemberdayaan berbasis potensi lokal, seperti sektor perkebunan sawit, pertanian, dan pariwisata, dinilai menjadi kunci agar masyarakat miskin di Kotim dapat bangkit secara berkelanjutan. (nardi)












