SAMPIT – Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan bahwa pencegahan paham ekstremisme di kalangan pelajar harus dilakukan secara kolaboratif antara sekolah dan orang tua. Penegasan ini disampaikan menyusul informasi adanya pelajar yang terpapar paham ekstremisme melalui media digital.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kotim Yolanda Lonita Fenisia meluruskan bahwa pelajar yang terpapar bukan berasal dari jenjang sekolah dasar (SD), melainkan siswa sekolah menengah atas (SMA) yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
“Perlu kami luruskan, anak yang terpapar itu bukan SD, melainkan SMA. Untuk itu kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah,” ujarnya, Jumat 9 Januari 2026.
Meski kewenangan SMA berada di provinsi, Yolanda menegaskan pihaknya tetap mengambil peran aktif dalam upaya pencegahan. Edukasi terkait bahaya radikalisme dan ekstremisme, kata dia, telah rutin disampaikan di sekolah-sekolah dan ke depan akan lebih ditingkatkan.
Menurutnya, salah satu penguatan akan dilakukan melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan melibatkan lintas sektor, seperti Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kepolisian, serta instansi terkait lainnya.
“Di sekolah rutin kami ingatkan, dan nanti akan kami tingkatkan lagi. Peran sekolah jelas, memberikan edukasi kepada peserta didik tentang bahaya radikalisme dan ekstremisme,” tegasnya.
Yolanda juga menekankan pentingnya pengaturan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Selama jam pembelajaran, siswa tidak diperbolehkan menggunakan telepon genggam, kecuali dalam kondisi tertentu yang memang digunakan sebagai media pembelajaran.
“Penggunaan gadget harus seimbang. Ada waktunya digunakan untuk pembelajaran atau ujian, tapi juga harus dibatasi. Banyak hal positif dari teknologi, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” katanya.
Selain sekolah, peran keluarga dinilai sangat krusial. Menurut Yolanda, pengawasan orang tua menjadi kunci karena anak lebih banyak berinteraksi dengan gawai saat berada di rumah.
“Peran keluarga sangat penting. Orang tua harus tahu game apa yang dimainkan anak, konten apa yang diakses. Banyak game sekarang mengandung unsur kekerasan, jangan sampai anak terbiasa sejak kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan penggunaan media digital yang baik justru dapat memberikan manfaat besar bagi anak, terutama untuk mendukung proses belajar. Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua harus berjalan seimbang.
Terkait penanganan pelajar yang telah terpapar, Yolanda menyebutkan bahwa proses pembinaan sepenuhnya ditangani oleh kepolisian. Dinas Pendidikan tidak dilibatkan secara langsung dalam penanganan teknis tersebut.
“Penanganannya dilakukan oleh Polres. Kami tidak dilibatkan secara langsung, dan saat ini anak tersebut masih dalam proses pembinaan,” pungkasnya. (Nardi)












