Orang Tua Diminta Aktif Awasi Tumbuh Kembang Anak, Antisipasi Terpapar Konten Negatif-Pemahaman Menyimpang

SYAHYUDI/BERITASAMPIT - Ketua Tim Satgaswil Densus 88 Antiteror Polda , Ganjar Satriyono.

– Pesatnya perkembangan media sosial dan game daring menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan masyarakat dalam mengawasi tumbuh kembang anak. Kesadaran bersama dinilai penting agar anak tidak terpapar konten negatif maupun pemahaman yang menyimpang.

Ketua Tim Satgaswil Densus 88 Antiteror Polda , Ganjar Satriyono, menegaskan bahwa orang tua perlu terus belajar dan memahami dunia digital yang kini akrab dengan anak-anak, termasuk berbagai platform media sosial dan game daring seperti Roblox.

“Orang tua tidak bisa lepas tangan. Mau tidak mau, ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Orang tua juga harus mau belajar, mengetahui isi serta pola interaksi di media sosial dan game yang dimainkan anak,” ucapnya, Senin 19 Januari 2026.

Terdapat sejumlah ciri awal yang dapat menjadi indikator apabila seorang anak mulai terpapar pengaruh negatif dari lingkungan digital. Ciri pertama, anak cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan sebelumnya.

“Anak yang awalnya ceria dan aktif berkumpul dengan teman sebayanya, perlahan mulai keluar dari circle pergaulan. Ia akan mencari kelompok lain yang memiliki kesamaan cara pandang atau pemikiran,” tambahnya.

Ciri kedua, anak mulai menunjukkan perilaku ujaran kebencian terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak sejalan. Bahkan, dalam beberapa kasus muncul tindakan perundungan terhadap teman yang berbeda pendapat.

“Selanjutnya, anak dapat menunjukkan sikap menentang orang tua. Fenomena anak yang berani melawan orang tua kini semakin sering dijumpai, terutama ketika anak merasa memiliki pembenaran atas pandangan yang diyakininya,” lanjutnya.

Ciri berikutnya yang patut diwaspadai adalah sikap anak yang sangat protektif terhadap gawai atau barang pribadinya. Jika sebelumnya anak tidak keberatan saat orang tua memeriksa ponselnya, kini ia mulai membangun batasan yang sangat kuat.

“Ini yang paling berbahaya. Karena di dalam gawai tersebut bisa saja terdapat grup atau konten yang tidak layak, bukan hanya untuk anak-anak, bahkan bagi orang dewasa sekalipun,”tuturnya.

Dalam beberapa kegiatan pembinaan, pihaknya menemukan anak-anak yang menggunakan sistem pengamanan berlapis pada gawainya, sehingga sulit diakses oleh orang tua. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan harus bersifat persuasif dan penuh empati.

“Kita harus menempatkan diri sebagai sahabat bagi anak. Pendekatannya dilakukan secara perlahan, membangun komunikasi yang baik agar anak mau terbuka dan bercerita,” tegasnya.

Pentingnya pola komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak agar anak merasa aman menyampaikan pengalaman serta permasalahan yang dihadapi, termasuk terkait penggunaan media sosial dan game daring.

“Peran keluarga dan lingkungan sangat menentukan. Dengan komunikasi yang baik, potensi risiko dapat dicegah sejak dini,” ungkapnya. (yud)

baca juga ...  Gubernur Kalteng Tegaskan Warga Lokal Harus Jadi Tuan di Tanah Sendiri dalam Program Transmigrasi
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!