SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar Pertemuan Sosialisasi Penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) Tahun 2026, Rabu 11 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya daerah dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional yang dicanangkan Kementerian Kesehatan.
Penjabat Sekretaris Daerah Kotim Umar Kaderi menyampaikan bahwa transformasi pelayanan kesehatan primer merupakan salah satu pilar utama dari enam pilar transformasi kesehatan Indonesia.
“Penguatan layanan primer menjadi fondasi penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh,” ungkapnya.
Integrasi layanan kesehatan primer diarahkan untuk menata dan mengoordinasikan berbagai layanan kesehatan dasar dengan fokus pada kebutuhan masyarakat berdasarkan siklus hidup, mulai dari individu, keluarga, hingga komunitas. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan tepat sasaran.
menjelaskan, fokus utama ILP meliputi pendekatan siklus hidup sebagai dasar integrasi layanan, mendekatkan akses pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa dan dusun melalui jejaring, serta memperkuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sebagai instrumen pengendalian kesehatan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Umar Kaderi juga menegaskan peran strategis puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan primer. Saat ini, Kabupaten Kotim memiliki 21 puskesmas, dengan layanan di tingkat desa dan kelurahan dilaksanakan melalui puskesmas pembantu (pustu), sementara layanan di tingkat RT dan RW diperkuat melalui posyandu.
Pendekatan baru dalam pelayanan kesehatan ini tidak lagi berorientasi pada penyakit atau program semata, melainkan pada siklus hidup masyarakat. Oleh karena itu, tenaga kesehatan puskesmas dan jejaringnya perlu dibekali pemahaman serta orientasi agar mampu menjalankan pola kerja baru secara terintegrasi dan optimal.
Pada tahun 2026, Kotim juga memperoleh dukungan pendanaan dari Global Fund. Berdasarkan penunjukan Dinas Kesehatan, Puskesmas Ketapang 2 ditetapkan sebagai pilot project implementasi ILP, bersama dua pustu yakni Pustu Bangkuang Makmur dan Pustu Telaga Baru, serta 10 posyandu yang berada di wilayah kerja tersebut.
Umar menekankan bahwa keberhasilan integrasi layanan kesehatan primer tidak dapat dicapai tanpa koordinasi lintas sektor. Peran pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, lembaga kemasyarakatan, serta partisipasi aktif masyarakat seperti PKK menjadi faktor penting dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan dasar.
“Kami berharap seluruh upaya yang dilakukan dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya. (nardi)












