Saf Pertama yang Dirindukan, Tangis Haru di Malam Perdana Tarawih Warga Muhammadiyah
Ramadan 1447 Hijriah akhirnya tiba. Di Kota Sampit, gema takbir dan langkah kaki menuju masjid menjadi tanda bahwa bulan suci kembali menyapa dengan segala kehangatan dan harapannya.
JIMMY, Sampit
LANGIT Kota Sampit berwarna jingga saat azan Isya berkumandang. Di halaman Masjid Al-Muhajirin Kompleks Perguruan Muhammadiyah Jalan Ahmad Yani, Kecamatan MB Ketapang, jamaah mulai berdatangan. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang turun dari sepeda motor bersama keluarga.
Anak-anak kecil berlarian kecil sebelum akhirnya dirangkul orang tuanya untuk bersiap mengambil saf. Mukena putih berbaris rapi di bagian belakang, sementara para lelaki memenuhi barisan depan. Malam itu bukan sekadar salat tarawih biasa—itu adalah pertemuan pertama dengan Ramadan tahun ini.
Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB ketika iqamah dikumandangkan. Saf telah rapat. Beberapa jamaah bahkan harus menambah barisan hingga mendekati teras. Ketika takbir pertama diangkat, suasana mendadak hening. Lantunan ayat suci Al-Qur'an mengalun pelan namun tegas, menembus relung hati yang mungkin setahun ini dipenuhi lelah dunia.
Di sela rakaat, terlihat seorang pria paruh baya menyeka air matanya. Sementara di sampingnya, seorang remaja berdiri tegak, mengikuti setiap gerakan imam dengan khusyuk. Ramadan selalu menghadirkan rasa yang berbeda—rindu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Masjid yang Kembali Dipenuhi Rindu
Tak hanya di pusat kota, suasana serupa juga terasa di Masjid Al-Mukhlisin Jalan Ki Hajar Dewantara. Sejak selepas Isya, jamaah telah memadati ruang utama masjid. Beberapa membawa sajadah tambahan, mengantisipasi membludaknya warga Muhammadiyah yang ingin meraih keutamaan malam pertama.
Bagi banyak jamaah, tarawih perdana adalah momentum yang tidak ingin dilewatkan. Ada semangat memperbaiki diri, ada tekad menuntaskan tilawah, dan ada doa-doa panjang yang dipanjatkan di sujud terakhir.
“Ramadan itu seperti tamu agung. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan lagi,” ujar salah seorang jamaah usai salat.
Lebih dari Sekadar Rakaat
Tarawih bukan hanya hitungan rakaat demi rakaat. Ia adalah ruang perenungan, ruang perjumpaan batin antara hamba dan Sang Pencipta. Di masjid-masjid itu, yang terdengar bukan hanya bacaan imam, tetapi juga desir harapan—tentang ampunan, kesehatan, rezeki, dan keluarga yang selalu dalam lindungan-Nya.
Anak-anak yang tadi berlarian kini tertidur di pangkuan ibunya. Para orang tua berbincang ringan selepas salat, merencanakan tadarus bersama dan kegiatan Ramadan lainnya.
Refleksi: Ketika Saf Menjadi Saksi
Malam pertama selalu istimewa. Saf-saf yang rapat menjadi saksi bahwa di tengah hiruk pikuk kota, iman masih menemukan jalannya. Ramadan mengajarkan bahwa sesibuk apa pun kehidupan, selalu ada ruang untuk kembali—kembali bersujud, kembali berharap, kembali memperbaiki diri.
Di Bumi Habaring Hurung, cahaya Ramadan telah dinyalakan. Dan di antara saf-saf tarawih warga Muhammadiyah, terselip doa sederhana: semoga langkah yang dimulai malam ini mampu bertahan hingga akhir Ramadan, dan diterima sebagai amal terbaik di sisi-Nya.












