Pulang Sahur Bersama Keluarga, Mudik Lebih Awal Demi Masakan Ibu yang Selalu Dirindu
Ramadan Tahun Ini Jadi Kebahagian yang Tidak Akan Dilewatkan Berkumpul Bersama Keluarga Tercinta, Itulah yang Dilakukan Andri (27) Bersama Sang Istri Memilih Mudik Lebih Awal.
UTOMO, Sampit
SUARA lalu lalang kendaraan ditengah hiruk pikuk Kota Sampit, Andri berjongkok memasangkan topi untuk anak laki-lakinya yang berusia dua tahun sembari menunggu sang istri, Maulida mengunci pintu rumah yang mereka tempati di Jalan Cristopel Mihing, Kelurahan Baamang Tengah Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Jam menunjukkan pukul 07.00 sepasang suami istri itu sudah bersiap-siap menaiki kuda besinya. Barang bawaan cukup banyak, karena harus menetap beberapa hari di tempat orang tuanya, keduanya memilih mudik lebih awal agar bisa menikmati awal Ramadan bersama orang tua tercinta. Andr berucap pada putranya bahwa mereka akan pulang ke rumah neneknya.
“Ayo nak. Sebentar lagi berangkat, kita sahur di rumah nenek malam ini,” ucapnya pelan.
Siang itu, Selasa 17 Februari 2026, adalah malam pertama Ramadan. Bagi keluarga Anrdi, perjalanan mudik dari Kota Sampit menuju desa kecil di bagian utara Kotim bukan sekedar mudik tahunan menjelang Lebaran. Ini adalah misi khusus menghadapi sahur pertama bersama keluarga besar di kampung halaman.
Mengejar Apa yang Dirindukan
Bagi sebagian besar orang Indonesia, mudik selalu identik dengan Lebaran. Namun dalam beberapa tahun terakhir, fenomena mudik lebih awal, bahkan sebelum puasa dimulai semakin menguat. Data Kementerian Perhubungan memproyeksikan pergerakan masyarakat pada musim mudik Lebaran 2026 mencapai 143,9 juta orang. Angka menunjukkan betapa kuatnya hasrat pulang telah mengakar dalam budaya masyarakat .
“Pulang kampung itu bukan hanya soal tradisi, tapi soal rindu yang terakumulasi selama ini. Ada kepuasan batin ketika bisa berkumpul kembali dengan keluarga di kampung halaman, melepas penat dari hiruk-pikuk kota,” ungkapnya.
Tradisi Sahur: Lebih dari Sekadar Makan
Anrdi menjelaskan bahwa sahur baginya bukan hanya sekedar makan melainkan kebersamaan yang hanya bisa dirasakan setahun sekali saat duduk makan bersama di tengah dingin menusuk kulit.
“Di lingkup keluarga, tradisi sahur yang masih eksis bersifat sederhana bukan mewah dan tidaknya lauk yang dihidangkan melainkan kebersamaan,” ujarnya.
Ia menyebut tidak semuanya langsung bernafsu menyantap hidangan. Menurutnya terkadang ada anggota keluarga yang masih mengantuk, sesekali mengucek mata sambil memegang gelas berisi teh hangat, ada juga yang memperebutkan lauk masakannya ibunya.
“Si bungsu biasanya yang masih mengantuk dan aku bersama kakakku kadang berebut lauk masakan ibu,” ujar Ardi tertawa mengingat kelakuannya tahun lalu.
Dirinya menyebut sahur ini, baginya adalah ruang yang hilang selama setahun. Jadwal kerja istrinya yang padat, dan rutinitas kota membuat mereka jarang bisa sarapan bersama, apalagi makan malam beramai-ramai. Sahur menjadi satu-satunya waktu di mana seluruh anggota keluarga dari yang paling tua hingga paling muda duduk bersama di meja yang sama.
“Kumpul keluarga kan tidak setiap hari. Suasana sahur pertama dengan suasana yang berbeda di kampung, bersama orang tua menjadi hal yang dirindu,” bebernya.
Refleksi: Pulanglah Sebelum Terlambat
Fenomena mudik lebih awal untuk sahur pertama ini mengajarkan kita sebuah kebenaran sederhana bahwa waktu tidak pernah menunggu. Orang tua semakin tua, anak-anak semakin besar, dan kesempatan untuk berkumpul semakin berkurang.
Maka ketika Ramadan tiba, dan hati terketuk untuk pulang, jangan tunda. Ambil cuti, siapkan kendaraan, atau pesan tiket jauh-jauh hari. Sebab pada akhirnya, yang kita kejar bukan sekadar tradisi, melainkan kehangatan yang hanya bisa ditemukan di meja makan rumah orang tua.
Seperti Falsafah Dayak yang menekankan pentingnya berkumpul bersama keluarga berakar kuat pada konsep Huma Betang (Rumah Betang) dan prinsip hidup Belom Bahadat (hidup beradat atau harmonis). Berkumpul bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan simbol kebersamaan, musyawarah, dan kekeluargaan yang erat.
(Utomo)












