PALANGKA RAYA – Pelaksanaan Manasik Haji Terintegrasi Kabupaten/Kota dan Kecamatan Tahun 1447 H/2026 M terus dimatangkan.
Tahun ini, jumlah jemaah haji asal Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 1.559 orang, termasuk tambahan kuota sebanyak 12 orang pada akhir tahap pelunasan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Kalimantan Tengah, H. Hasan Basri, menyampaikan bahwa seluruh tahapan administrasi berjalan lancar. Dokumen jemaah, khususnya dari Kota Palangka Raya, dinyatakan aman dan tinggal menunggu proses keberangkatan.
“Permohonan visa dan penyusunan manifes sudah kami kirim ke pusat. Saat ini tinggal proses pengumpulan data dan penerbitan visa serta kartu identitas jemaah. Insya Allah siap berangkat sesuai jadwal,”ucapnya.
“Keberangkatan jemaah haji Kalimantan Tengah dijadwalkan mulai April 2026. Tahun ini, Kalteng mendapatkan empat kloter penuh dan satu kloter gabungan dengan Kalsel. Kloter 4, 5, 6, dan 7 diisi penuh oleh jemaah Kalimantan Tengah, sementara kloter 8 merupakan kloter gabungan. Untuk Kota Palangka Raya, jemaah tergabung dalam kloter 5 dan 7, serta dua orang di kloter 8 sebagai jemaah cadangan yang naik menggantikan kuota kosong,” tambahnya.
Rata-rata masa tunggu jemaah yang berangkat tahun ini sekitar 14 tahun sejak pendaftaran. Sementara bagi pendaftar baru, daftar tunggu saat ini diperkirakan mencapai 26 tahun.
“Selain itu untuk jemaah tertua berusia 88 tahun. Sedangkan jemaah tertua se-Kalimantan Tengah berusia di atas 90 tahun berasal dari Muara Teweh. Adapun jemaah termuda berusia 13 tahun dari Pulang Pisau,” lanjutnya.
Seluruh jemaah kategori prioritas lansia yakni berusia 65 tahun ke atas mendapatkan perlakuan khusus. Tahun ini, jumlah jemaah prioritas lansia di Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 78 orang.
“Jemaah lansia tidak perlu mengantre saat tiba di embarkasi Banjarmasin. Mereka langsung diarahkan ke kamar, kemudian petugas kesehatan yang datang melakukan pemeriksaan. Fasilitas ini bagian dari komitmen pelayanan haji ramah lansia,” tuturnya.
Selain ramah lansia, pelayanan haji tahun ini juga mengusung prinsip ramah disabilitas dan ramah perempuan. Jemaah prioritas juga tidak diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian seremoni pelepasan, demi menjaga kondisi fisik.
“Kami berharap meskipun waktunya lebih singkat, pemahaman jemaah tetap optimal. Karena itu kami mengimbau agar para jemaah mendalami kembali ilmu manasik secara mandiri,” ungkapnya. (yud)












