Di tengah padatnya arus mudik Lebaran yang mulai memuncak di Pelabuhan Sampit, bukan hanya para pemudik yang merasakan geliatnya, tetapi juga para porter yang menggantungkan rezeki dari jasa angkut barang.
Ahmad Winardi, Sampit
Riuh arus mudik Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah mulai terasa di Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Di tengah lalu lalang ribuan pemudik yang hendak pulang ke kampung halaman, ada cerita lain yang ikut hidup, cerita para porter yang mengais rezeki dari musim tahunan ini, Rabu 18 Maret 2026.
Sejak beberapa hari terakhir, kawasan pelabuhan dipenuhi calon penumpang dengan tujuan kota-kota besar seperti Surabaya dan Semarang.
Mereka tampak sibuk memeriksa tiket, mengatur barang bawaan, hingga mengantre menunggu panggilan naik kapal. Suasana padat dan penuh dinamika itu menjadi tanda dimulainya puncak mudik.
Di tengah terik matahari yang cukup menyengat siang itu, seorang pria mengenakan baju biru muda bertuliskan “porter” terlihat sigap mengangkut kardus milik penumpang. Di antara keriuhan masyarakat yang berdesak-desakan, ia tetap fokus membantu mengangkat barang hingga ke atas kapal. Meski cuaca panas dan dalam kondisi berpuasa, langkahnya tak surut. Demi menafkahi keluarga menjelang Idulfitri, semangatnya tetap terjaga.
Pada hari itu KM Kelimutu sudah siap untuk mengangkut sebanyak 1.400 penumpang dengan tujuan Sampit–Semarang, dijadwalkan berangkat pada pukul 13.00 WIB. Penumpang satu persatu sudah naik dan memenuhi dek kapal.
Di balik kesibukan tersebut, para porter lain juga tampak aktif menawarkan jasa. Dengan langkah cepat, mereka menghampiri penumpang yang membawa barang berlebih, tas besar, kardus, hingga koper, untuk diangkut menuju kapal.
Yan Paul, salah satu porter di pelabuhan, sudah lebih dari dua dekade menjalani pekerjaan ini sejak 2001. Baginya, musim mudik adalah waktu yang paling dinanti.
“Kalau lagi seperti ini, alhamdulillah ada peningkatan. Tarif angkut rata-rata Rp25 ribu per tas,” ujarnya.
Dalam satu kali keberangkatan kapal, jumlah pengguna jasa porter bisa mencapai ratusan orang. Untuk kapal besar, seperti kapal Pelni, pengguna jasa bisa menyentuh sekitar 200 orang. Sementara kapal yang lebih kecil berkisar 100 orang.
Dengan jumlah porter sekitar 60 orang, pembagian rezeki tentu tidak merata. Namun, menurut Paul, selama masih ada kapal yang datang dan berangkat, peluang tetap terbuka.
“Kalau sehari ada satu sampai dua kapal, ya lumayan. Apalagi mendekati Lebaran,” katanya.
Ia menuturkan, peningkatan penghasilan biasanya mulai terasa sejak H-10 Lebaran. Jika pada hari biasa ia hanya memperoleh Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per hari, maka saat musim mudik pendapatannya bisa melonjak hingga Rp200 ribu.
“Kalau sudah dekat Lebaran bisa sampai Rp200 ribu. Biasanya untuk kebutuhan Lebaran, beli baju anak, sama keperluan lainnya,” ucapnya.
Namun, di balik momen ramai tersebut, kehidupan porter tidak selalu berjalan mulus sepanjang tahun. Paul mengaku, di luar musim mudik, pekerjaan sering kali sepi.
Selain menjadi porter, ia juga bekerja sebagai tenaga kerja bongkar muat. Namun kesempatan itu tidak datang setiap waktu.
“Kalau bongkar muat itu kadang empat bulan sekali baru dapat giliran. Jadi kalau lagi sepi, kita cari kerja lain, seperti potong rumput atau kerja serabutan,” jelasnya.
Persaingan pun semakin terasa. Jumlah porter di Pelabuhan Sampit kini lebih banyak dibandingkan sebelumnya, membuat mereka harus lebih aktif mencari penumpang.
“Sekarang porter makin banyak, jadi harus lebih semangat cari penumpang,” tambahnya.
Meski demikian, Paul tetap bersyukur yang penting rezeki halal yang didapat. Baginya, hiruk pikuk arus mudik bukan sekadar pergerakan manusia menuju kampung halaman, tetapi juga membawa harapan bagi mereka yang menggantungkan hidup di pelabuhan. (*)












