Lebaran Boleh Beda, Hati Tetap Satu

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

Oleh: Selamat Purwanto

Kamis sore, 19 Maret 2026.
Langit Jakarta perlahan berubah warna, dari terang menuju temaram. Di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, para ulama, ahli falak, dan perwakilan organisasi Islam mulai berkumpul. Seperti tahun-tahun sebelumnya, satu pertanyaan kembali hadir dan selalu terasa penting: kapan kita merayakan Idulfitri?
Sidang isbat digelar. Data demi data dipaparkan—perhitungan astronomi, laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah, hingga diskusi yang berjalan tertutup. Semua bermuara pada satu keputusan yang dinanti banyak orang di seluruh Indonesia.

Tak lama kemudian, Nasaruddin Umar menyampaikan hasilnya. Pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Hilal dinyatakan belum memenuhi kriteria, sehingga bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.
Keputusan itu langsung menyebar cepat. Grup keluarga ramai, status media sosial berubah, dan sebagian orang mulai menyesuaikan rencana pulang kampung atau menyiapkan hari raya.

Namun di saat yang sama, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa Idulfitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Perbedaan itu bukan karena siapa yang paling benar atau paling salah, melainkan karena cara membaca tanda-tanda langit yang tidak sama.

Kalau kita mundur sedikit ke belakang, ini bukan pertama kalinya. Tahun 2023, perbedaan juga terjadi—sebagian merayakan pada 21 April, sebagian lainnya 22 April. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya, hal seperti ini sudah berulang. Dan setiap kali itu datang, kita belajar hal yang sama: bahwa kebersamaan tidak runtuh hanya karena perbedaan hari.

Di satu kampung, takbir bisa berkumandang lebih dulu. Di rumah sebelah, mungkin masih ada yang menyiapkan sahur terakhir. Tapi setelah itu, semua kembali pada satu suasana: pintu rumah terbuka, tangan saling berjabat, dan hati saling didekatkan kembali.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan sekadar tentang kapan dirayakan, tetapi tentang ke mana hati ini kembali. Ramadan telah melatih kita menahan diri, dan Idulfitri mengajarkan kita untuk membuka hati—memaafkan, menerima, dan mengikhlaskan.

Perbedaan ini menjadi pengingat halus bahwa jalan menuju Allah bisa beragam, tetapi tujuan kita tetap satu: mencari ridha-Nya, berharap ampunan-Nya, dan pulang dalam keadaan lebih bersih dari sebelumnya.

Semoga segala amal ibadah yang kita lakukan selama Ramadan—puasa, doa, sedekah, dan kesabaran—diterima oleh Allah. Semoga yang belum sempurna dimaafkan, yang kurang dilengkapi, dan yang hilang diganti dengan kebaikan.

Dan semoga kita semua benar-benar kembali, bukan hanya secara simbolik, tetapi dengan hati yang lebih jernih dan jiwa yang lebih lapang.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Taqabbalallahu minna wa minkum
(Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian)
مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ
Min al-‘aidin wal faizin
(Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan memperoleh kemenangan)

Semoga langkah kita setelah Ramadan ini lebih ringan dalam kebaikan,
lebih kuat dalam menjaga silaturahmi,
dan lebih tulus dalam memaafkan.

Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Mohon maaf lahir dan batin.

baca juga ...  Lapas Bukan Sekadar Tembok, Tapi Integritas Bangsa
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!