Merindu Gema Takbir di Kampung Halaman, Kembali Kepangkuan Ibu

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

Empat tahun merantau di tanah orang, akhirnya Fadil (22) bisa pulang untuk bersujud di pangkuan ibu dan merasakan hangatnya Lebaran yang telah lama dinanti.

Utomo, Sampit

PESAWAT yang ditumpangi Fadil baru saja tiba di , (Kalteng). Langit mulai merambat jingga, pertanda malam akan segera tiba. Namun bagi Fadil, cahaya jingga itu tak sehangat cahaya lampu rumah di Mentaya Hulu yang sudah ia rindukan selama empat tahun.

Mahasiswa semester akhir di sebuah universitas di Jawa itu baru saja menempuh perjalanan udara selama hampir dua jam untuk sampai di dan masih harus melanjutkan perjalanan jalur darat menuju Kecamatan Mentaya Hulu yang memakan waktu kurang lebih empat jam.

“Baru saja sampai dan harus lanjut lagi sekitar empat jam baru sampai kampung,” ucapnya sambil menghela napas, namun senyumnya mengembang lebar.

Perjalanan Panjang Seorang Anak Rantau

Fadil adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani, ibunya hanya ibu rumah tangga. Empat tahun lalu, ia memberanikan diri merantau ke Pulau Jawa untuk kuliah, sebuah keputusan besar baginya.

“Waktu berangkat dulu, ibu menangis dan bapak hanya bilang hati-hati, pulang kalau sudah jadi orang. Dan selama empat tahun itu, saya tidak pernah pulang,” kenangnya.

Biaya kuliah yang tinggi dan ongkos mudik yang mahal membuat Fadil memilih bertahan di perantauan. Setiap Lebaran, ia hanya bisa menatap layar ponsel, mengikuti salat Id berjamaah di masjid kampus, lalu menelepon ibu yang suaranya bergetar menahan tangis.

“Setiap tahun saya bilang, tahun depan pulang. Tapi tahun depan selalu belum bisa,” ujarnya lirih.

Tiket dan Tabungan yang Tak Pernah Terganggu

Tahun ini, Fadil bertekad pulang. Sejak enam bulan lalu, ia mulai menyisihkan uang dari hasil kerja sampingan sebagai asisten dosen foto box di sebuah Mal.

“Saya langsung sisihkan untuk beli tiket. Sisa buat beli oleh-oleh dan THR buat adik-adik,” katanya sambil membuka tas ransel yang penuh sesak.

Dari dalam tas, ia mengeluarkan bungkus-bungkus oleh-oleh khas Jogja: bakpia, gudeg kaleng, dan kaos dengan tulisan “Jogja Istimewa”. Juga beberapa buku tulis dan alat tulis baru untuk adiknya.

“Yang ini buat ibu,” ujarnya sambil menunjukkan selembar mukena baru warna ungu muda yang masih terbungkus plastik. Ibu suka warna ungu, katanya,” unkapnya banggan.

Kampung yang Tak Pernah Berubah Atau Justru Berubah?


Saat motor taksi yang ia tumpangi memasuki jalan yang mulai gelap, Fadil menajamkan pandangan. Pohon-pohon di kanan kiri jalan mulai menghilang, dan berganti dengan kebun sawit. Beberapa rumah yang dulu masih berdinding papan, kini sudah beralih ke tembok permanen.

“Banyak yang berubah ya, Mas,” katanya pada pada driver taksi.

“Iya. Sekarang banyak warga yang renovasi rumah. Ada juga yang jual tanah ke perusahaan sawit,” jawab driver taksi.

Fadil mengangguk pelan. Ia teringat masa kecilnya dulu, saat kampung ini ramai dengan anak-anak seusianya yang bermain di lapangan atau mendi bertelanjang dada di Sungai Mentaya.

Ibu dan Air Mata di Muka Pintu

Taksi yang ditumpangi Fadil berhenti di depan sebuah rumah panggung sederhana. Cat hijau dindingnya mulai mengelupas, namun halaman depan tampak bersih dan ditanami bunga-bunga warna-warni. Sebatang pohon mangga di samping rumah sedang berbuah lebat.

Raka turun dari mobil, membayar ongkos, lalu berdiri mematung beberapa detik. Dadanya berdegup kencang. Dari balik pintu kayu, sesosok perempuan setengah baya keluar. Tubuhnya sedikit membungkuk, rambutnya mulai banyak uban. Ia memicingkan mata, seperti tidak percaya dengan yang dilihat.

Belum sempat berkata apa-apa, perempuan itu sudah memeluk Fadil erat. Tangis pecah di muka pintu. Ibu Fadil menangis tersedu-sedu, memeluk anak sulungnya yang akhirnya pulang setelah empat tahun merantau.

“Anak ibu, akhirnya pulang, ibu rindu sekali nak,” isaknya di sela tangis.

Fadil membalas pelukan ibunya. Matanya basah. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya mengusap-usap punggung ibunya yang kurus. Dari dalam rumah, ayahnya keluar. Pria paruh baya dengan kulit legam terbakar matahari itu berdiri diam di ambang pintu. Matanya juga berkaca-kaca. Ia hanya mengangguk pelan, dan Fadil mengerti. Itulah cara bapaknya menunjukkan rasa rindu.

Malam Penuh Cerita

Malam itu, keluarga kecil itu duduk bersama di ruang tengah. Ibu Fadil sibuk menghidangkan makanan. Ayam goreng, sambal terasi, dan sayur asem kesukaan Fafil. Adiknya yang masih duduk di SMA sibuk bertanya tentang kehidupan di Pulau Jawa.

Mencari Gema Takbir yang Dirindu

Malam takbiran tiba. Fadil memakai baju koko putih yang sudah disiapkan ibu, lalu berjalan kaki ke masjid bersama ayahnya. Di sepanjang jalan, lampu-lampu hias berkelap-kelip dipasang di depan rumah-rumah warga. Anak-anak kecil berlarian dengan lilin dan petasan, meski beberapa kali ditegur orang tua.

Masjid sudah ramai. Takbir berkumandang dari pengeras suara, menggema ke seluruh penjuru kampung. Raka merasakan sesuatu yang lama hilang kembali ke dadanya. Perasaan damai, tenang, dan bahagia yang tak bisa dijelaskan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd.

Fadil ikut bertakbir, suaranya menyatu dengan jamaah lain. Di sampingnya, ayahnya juga bertakbir dengan suara parau yang bergetar. Raka menoleh, dan melihat air mata mengalir di pipi ayahnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat ayahnya menangis.

Sujud di Pangkuan Ibu

Esok paginya, salat Id digelar di lapangan . Ribuan warga berkumpul, bersaf-saf rapi. Fadil duduk di antara ayah dan adik-adiknya. Ia merasakan kebersamaan yang lama hilang.

Usai salat, tradisi sungkeman dimulai. Fadil berjalan menuju ibunya yang duduk di ruang tengah rumah. Ia berlutut, menundukkan kepala, lalu mencium lutut ibunya. Tangannya menggenggam erat tangan ibu yang mulai keriput. Ibu Fadil meletakkan tangannya di atas kepala anaknya. Air mata jatuh satu per satu membasahi hijabnya. Fadil menangis di pangkuan ibunya.

Di perantauan, Fadil belajar banyak hal. Ia belajar tentang kerasnya hidup, tentang kemandirian, tentang perjuangan. Tapi di kampung halaman, ia belajar tentang arti pulang, tentang cinta tanpa syarat, dan tentang gema takbir yang selalu ia rindukan di setiap malam Lebaran yang ia lewatkan.

baca juga ...  Ini Jumlah Puskesmas yang Memiliki Akreditasi di Kotim

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!