Perang Amerika-Iran Berkepanjangan, Minyak $200, dan Ancaman Keruntuhan Petrodollar

Ilustrasi

JAKARTA— Dalam sebuah wawancara eksklusif terbaru dengan jurnalis senior Amerika Serikat, Tucker Carlson, Profesor Chang, seorang akademisi terkemuka keturunan Tiongkok-Kanada, menyampaikan serangkaian prediksi suram terkait eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampak sistemiknya terhadap stabilitas global.

Profesor Chang menegaskan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk menghentikan keterlibatan militernya dalam waktu dekat. Sebaliknya, ia memproyeksikan konflik akan meluas dan menjadi perang yang berkepanjangan, menyamai pola kehancuran dan ketidakpastian yang terlihat dalam krisis di Ukraina.

Dampak Ekonomi Global: Minyak $200 dan Krisis Pangan

Kekhawatiran utama yang ditekankan oleh Prof. Chang adalah konsekuensi ekonomi langsung dari perang yang berlarut-larut ini. Ketegangan yang terus berlanjut di jalur pasokan minyak utama dunia diperkirakan akan mendorong harga minyak mentah global melonjak drastis hingga menyentuh angka $200 per barel.

Lonjakan harga energi ini, menurut Chang, tidak hanya akan memicu inflasi global tetapi juga berpotensi menyebabkan kelangkaan pangan di seluruh dunia. Biaya produksi dan distribusi pangan yang bergantung pada energi akan meningkat tajam, menciptakan krisis kemanusiaan di berbagai belahan bumi.

Dilema Amerika Serikat dan Masa Depan Petrodollar

Menganalisis posisi Amerika Serikat, Prof. Chang menilai Washington saat ini berada dalam posisi yang “terjebak.” Jika AS memutuskan untuk mengakhiri keterlibatannya atau ditarik keluar dari konflik, Iran diprediksi akan menuntut kompensasi besar atas kerugian yang diderita.

Lebih jauh, Teheran akan menekan keras agar militer AS sepenuhnya ditarik mundur dari kawasan Timur Tengah.

Konsekuensi paling fatal bagi kepentingan AS, menurut analisis Chang, terjadi jika Amerika benar-benar kehilangan pijakan di kawasan Teluk.

Penarikan diri ini dapat menandai berakhirnya era “Petrodollar”, kesepakatan historis di mana perdagangan minyak global dilakukan dalam mata uang AS, yang menjadi fondasi utama kekuatan ekonomi Amerika.

baca juga ...  Menko PM Ucapkan Selamat atas Pelantikan Raja Siri Sori Islam, Syarifuddin Pattisahusiwa

Jika sistem Petrodollar runtuh, Prof. Chang memprediksi negara-negara Arab tidak akan lagi menjual minyak mereka dalam Dollar. Hal ini berpotensi memicu devaluasi besar-besaran terhadap mata uang Dollar AS dan menggeser peta kekuatan ekonomi global secara fundamental.

Wawancara lengkap antara Tucker Carlson dan Profesor Chang telah menjadi sorotan banyak pengamat geopolitik di seluruh dunia, yang kini tengah meninjau kembali risiko strategis di Timur Tengah.

Berita ini didasarkan pada pernyataan yang disampaikan dalam wawancara publik. Sudut pandang yang disajikan adalah sepenuhnya milik Profesor Chang dan tidak mencerminkan kebijakan resmi dari institusi manapun.

(adista)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!