Intensitas Hujan Menurun, BPBD Kotim Ingatkan Waspada Kekeringan hingga Karhutla

IST/BERITASAMPIT - Pantauan dari udara terhadap area karhutla di Bangkuang Makmur.

SAMPIT – Kondisi cuaca di Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir cenderung lebih panas dengan intensitas hujan yang mulai menurun. Situasi ini mulai memicu munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan bahwa tanda-tanda kemarau mulai terasa pasca Lebaran. 

“Memasuki akhir Maret ini, intensitas hujan sudah mulai berkurang,” ujarnya, Jumat 27 Maret 2026.

Ia menjelaskan, hasil pemantauan menunjukkan penurunan signifikan pada tinggi muka air tanah yang kini berada di kisaran minus 20. Selain itu, kondisi di sejumlah drainase juga mengalami penurunan debit air hingga hampir satu meter.

“Air di sistem drainase, baik untuk perkebunan maupun persawahan, mulai berkurang. Ini tentu menjadi perhatian kami, terutama untuk wilayah pertanian seperti di Lempuyang yang saat ini memasuki masa panen dan akan bersiap ke masa tanam berikutnya,” jelasnya.

Multazam menambahkan, selain ancaman karhutla, potensi kekeringan juga perlu diwaspadai. Pasalnya, musim tanam selanjutnya diperkirakan akan berlangsung pada periode kemarau.

Mengacu pada prakiraan , musim kemarau di Kalteng diprediksi mulai terjadi sejak minggu ketiga Mei, diawali dari wilayah timur Kalteng seperti dan . Namun demikian, dampak kekeringan di setiap daerah bisa berbeda.

“Di Kotim, jika tidak hujan selama tujuh hari saja, dampak kekeringannya sudah cukup terasa, terutama di wilayah selatan,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi vegetasi saat ini mulai mengering, sehingga sangat mudah terbakar. Berdasarkan data terbaru, terdapat lima titik hotspot pada hari sebelumnya dan bertambah satu titik pada hari ini. Selain itu, dua kejadian kebakaran juga telah terjadi.

Berdasarkan parameter yang dimiliki, BPBD menilai kondisi saat ini sudah mengarah pada status siaga. Namun, masih diperlukan pengamatan lanjutan terhadap tren penurunan muka air tanah.

baca juga ...  Geger! Tiga Pria di Perusahaan Sawit Dibekuk Polisi Gara-Gara Jualan Sabu

“Kami masih mengumpulkan data untuk memastikan apakah penurunannya konsisten, karena sebelumnya sempat terjadi hujan pada 17 Maret yang membuat kondisi sempat membaik,” jelasnya.

Ia juga menyoroti potensi krisis air bersih, khususnya di wilayah selatan. Jika musim kemarau berlangsung lama, masuknya air laut di Sungai Mentaya hingga wilayah Bagendang dapat menyebabkan air menjadi payau.

“Kalau air yang disuplai tidak memenuhi kualitas, tentu berisiko terhadap masyarakat, seperti munculnya penyakit,” ujarnya.

Meski saat ini belum ada laporan kekurangan air bersih, BPBD tetap mengingatkan agar langkah antisipasi segera disiapkan, termasuk kemungkinan distribusi air bersih secara manual ke wilayah terdampak.

Selain itu, keterbatasan peralatan juga menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Beberapa peralatan dinilai sudah usang, sehingga pihaknya berencana menggandeng pihak ketiga untuk mendukung operasional di lapangan.

“Kami akan merancang langkah ke depan, termasuk menghimpun data untuk memenuhi parameter dalam rencana kontinjensi, sebelum dilakukan rapat evaluasi,” pungkasnya. (nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!