Suasana Haru Iringi Pemakaman Almarhumah Birute Mary Galdikas

Ket Foto - Frederick Pahlerang Bohap Galdikas didamping Adiknya Filomena Jane Bohap Galdikas, saat menyampaikan curahan hatinya terkait perjuangan Ibundanya selama 55 tahun melindungi kehidupan orangutan. Proses pemakaman Almarhumah Prof. Dr. Birute Mary Galdikas.

Oleh: Maman Wiharja (Wartawan Senior di Kalteng)

SETELAH disemayamkan satu hari satu malam di rumah duka, prosesi pemakaman almarhum Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, dilaksanakan sesuai jadwal, Rabu 15 April 2026.

Jenazah almahumah dikebumikan dengan upacara adat Suku Dayak, disamping makam Suaminya Bohap Bin Jalan, yang meninggal pada 17 April 2022 lalu.

Penulis berada di lokasi pemakaman sekitar pukul 08.00 WIB, yang jaraknya dari rumah duka sekitar 20 meter.

Pemakaman Birute Mary Galdikas sebelumnya telah dijadwalkan sekitar pukul 10.00 WIB. Suasana rumah duka ternyata sudah dipenuhi ratusan pelayat sejak jam 07.00 WIB.

Hadir dalam prosesi pemakaman perwakilan dari Kementerian Kehutanan RI, Gubernur Kalteng yang diwakili Kepala Dinas Kehutanan, Bupati Kobar yang diwakili Wabup Suyanto, HM Ruslan. AS, unsur Forkopimda, serta pelayat lainnya.

Sebelum peti jenazah dimasukan ke liang lahat, salah seorang Panitia membacakan ‘Memoriam', perjalanan panjang kinerja Prof. Dr. Birute Mary Galdikas selama 55 tahun, menyelamatkan kehidupan Orangutan yang nyaris punah di dunia kini sudah hidup lestari di habitatnya Hutan Taman Tanjung Puting.

Pada sesi berikutnya, putra-putri almarhum Birute Mary Galdikas Frederick Pahlerang Bohap Galdikas (Direktur OFI) didampingi adiknya Filomena Jane Bohap Galdikas juga menyampaikan sambutan, membuat suasana area pemakaman nampak hening, yang terdengar hanya suara penuh haru dari seorang anak yang baru saja ditinggalkan selama-lamanya oleh Ibunda tercintanya.

Pengamatan penulis, dari sekian banyak ungkapan yang disampaikan Frederik Pahlerang  Bohap Galdikas, ada kalimat yang mengharukan, sehingga puluhan staf OFI  meneteskan air mata.

“Suara ibu masih terngiang, dan berpesan kepada saya, jaga dan lanjutkan untuk merawat dan menyayangi Orangutan,” ucap Frederick Galdikas, sambil nangis terbata-bata karena tak kuasa menahan sedih.

baca juga ...  Tanpa Ampun! Cara Ditpolairud Kalteng Bersihkan Sungai Arut dari Narkoba

“Ia ibu dari Orangutan, juga ia adalah ibuku, merupakan salah satu ilmuwan sebagai perintis yang telah mengabdikan dirinya selama 55 tahun di tanah hutan Kalimantan, untuk menyelamatkan kehidupan orangutan”

“Dia adalah pelindung dan suara bagi Hutan di Kalimantan. Selama 55 tahun dia tidak mencari kekayaan ataupun ketenaran. Tapi saya sebagai Anaknya sangat bangga memiliki Ibu yang penuh dedikasi mengabdi untuk memahami dan melindungi kehidupan Orangutan untuk terus  beregenerasi dimasa yang akan dating,”

Terpisah, Wabup Kobar Suyanto dalam sambutannya mengatakan, perjuangan Prof. Dr. Birute Mary Galdikas belum selesai. “Sejak penelitian dimulai pada 1971, sepanjang hidupnya beliau mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, sehingga meninggalkan ilmu dan pelajaran berharga bagi dunia”

Suyanto menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan Prof. Dr. Birute Mary Galdikas menjadi tonggak penting dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dalam memberikan pemahaman baru mengenai kehidupan orangutan di habitat alaminya. Penelitian tersebut turut berperan besar dalam meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya pelestarian satwa liar dan lingkungan.

Lebih lanjut, Suyanto menyampaikan bahwa Pemkab Kobar bersama seluruh pemangku kepentingan terus berupaya menjaga kelestarian orangutan dan habitatnya, termasuk kawasan konservasi di Taman Tanjung Puting. (*)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!