PALANGKA RAYA – Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai memasuki periode peralihan musim dari hujan ke kemarau pada April hingga Mei 2026.
Dalam fase ini, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Lian Adriani, menjelaskan bahwa masa pancaroba identik dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah dan sulit diprediksi.
“Di masa peralihan ini, potensi cuaca ekstrem perlu diwaspadai, seperti hujan lebat, hujan es, angin kencang hingga puting beliung, serta hujan yang disertai petir,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis, 16 April 2026.
Menurutnya, perubahan cuaca yang terjadi bisa berlangsung dalam waktu singkat. Kondisi panas pada pagi hari kerap diikuti hujan dengan intensitas tinggi pada siang atau sore hari.
“Hujan yang terjadi umumnya bersifat lokal dengan durasi singkat, namun intensitasnya bisa cukup tinggi,” jelasnya.
BMKG menegaskan bahwa meskipun Kalteng mulai menuju musim kemarau, potensi hujan masih tetap ada.
Oleh karena itu, periode April hingga Mei menjadi masa penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi.
Selain hujan deras dan angin kencang, masyarakat juga diminta mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, seperti genangan air, banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang, khususnya di wilayah yang rawan.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan,” kata Lian.
BMKG mengimbau warga untuk rutin memperbarui informasi prakiraan cuaca melalui kanal resmi guna mengurangi risiko akibat perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba.
(Sya'ban)












