Penulis: Maman Wiharja (Jurnalis Senior di Kalteng)
SEJUMLAH pihak mengatakan perang Amerika vs Iran, pertanda perang dunia ketiga sudah dimulai. Ada pula yang mengatakan cici-ciri kiamat sudah tampak.
Pengamatan penulis, perang Amerika vs Iran, dikarenakan kedua belah pihak tidak bisa menahan diri. Namun yang jadi pertanyaan, kenapa Amerika dan Iran masih terus berperang, bahkan Israel pun sampai sekarang masih melakukan serangan ke Libanon dan Palestina.
Bicara masalah perang yang sampai sekarang tidak pernah berhenti, menurut penulis, kedua belah pihak tidak bisa menahan diri, mementingkan ego, dendam, haus kekuasaan dan merasa paling benar.
Amerika-Israel dengan penuh nafsu diduga keras ingin mendominasi, “Timur Tengah harus ikut aturan kami”. Setelah 2025 membuktikan ikut pamer bom ke fasilitas nuklir Iran melalui Operation Epic Fury 28 Februari 2026, dan selama 3 hari menghantam 1.700 target. Diselingi dengan ultimatum Presiden Trump “Buka Selat Hormuz atau hancurkan peradaban Iran”.
Sementara Iran melawan karena merasa dizalimi, membalas serangan dengan ratusan rudal balistik dan drone ke Israel, pangkalan AS, dan negara Teluk serta menutup Selat Hormuz yang mengakibatkan harga minyak dunia melonjak.
Bagian rasionalnya, 1). Nuklir Amerika-Israel takut oleh Iran bikin bom. IAEA sejak 2026 gak bisa verifikasi fasilitas nuklir Iran habis di bom, jadi curiga “jangan-jangan dipindah”. 2). Minyak & Selat Hormuz: Siapa kontrol selat, dia pegang “keran” ekonomi dunia. 3). Proksi: Sejak Perang Gaza 2023, Iran via Hamas, Hezbollah, Houthi bikin Israel terkepung. Israel & AS balas pangkas satu-satu. 4). Ekonomi dalam negeri: Sanksi AS bikin rial Iran anjlok, rakyat miskin. Perang dipakai untuk alihkan isu domestik di kedua negara.
Kalau ditarik benang merahnya, ada dendam Amerika yang menumpuk, dari tahun 1953 AS-Inggris gulingkan PM Iran Mossadegh, Revolusi 1979, Kedubes AS disandera, sampai AS keluar dari perjanjian nuklir 2018.
Terkait perang Amerika vs Iran, menurut berbagai sumber yang telah banyak ditayang diberbagai media, sebenarnya ada mediasi Oman, Swiss, Pakistan. Gencatan senjata 8 April 2026 juga terjadi karena Pakistan menengahi. Artinya, kalau mau, bisa ditahan. Tapi 28 Feb 2026 dipilih perang karena kedua pihak merasa “sudah cukup, sekarang pukul duluan”.
Jadi pengamatan penulis, diduga kedua belah pihak tidak bisa menahan diri, dengan keegoannya bahan bakar (BBM) jadi korban rebutan, yang diberi sumbu dengan nuklir. Karena tanpa sumbu nuklir, nafsu saja tidak cukup untuk nyalakan perang sampai 40 hari yang guncang dunia yang sampai sekarang tambah memanas.
Pengamatan penulis, sejak konflik bulan Oktobder lalu Israel terus menggempur Palestina, membuat 216 negera di dunia sebagian besar menggelar aksi demo dan banyak yang telah memberi bantuan langsung baik untuk kesehatan dan sandang pangan ke Palestina.
Disusul perang Amerika vs Iran, yang nampak kedua belah pihak terus ngotot mempertahankan harga dirinya. Dampaknya kini sejumlah Negara ketar-ketir takut terhambatnya pasokan bahan bakar minyak (BBM), hingga membuat harga melambung tinggi. Bahkan LPG Subsidi 3 Kg dan 5 Kg di Kobar sudah mulai langka. Namun akibat perang Amerika vs Iran, ada sedikit hikmahnya, yakni harga Crude Palm Oil (CPO) Kelapa Sawit ada kenaikan yang cukup signifikan. (*)












